Merawat Warisan Produksi Genting dan Lurik di Grogol Sukoharjo

Industri genteng menjadi salah satu potensi andalan bagi Desa Grogol, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo. Foto diambil Minggu (26/5 - 2019). (Solopos/Indah Septiyaning W.)
27 Mei 2019 22:58 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO-Pengembangan usaha kecil menengah (UKM) di wilayah Desa Grogol, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, terus dilakukan guna menggenjot perekonomian warga. UKM yang dikembangkan di antaranya usaha genting, tenun lurik, hingga tas rajut yang dihasilkan komunitas penyandang disabilitas. 

Usaha pembuatan genting dilakukan di halaman rumah penduduk. Masuk ke perkampungan, akan terlihat halaman rumah digunakan membuat genting. Genting-genting tersebut ditata berjajar, tidak hanya di halaman rumah, juga di pinggir jalan kampung.

Hampir setiap rumah diwarnai aktivitas warga baik mengolah tanah liat, mencetak hingga membakar genting di tobong. Seolah tak mengenal hari libur, warga setiap hari memproduksi genting.

Usaha pembuatan genting ini ada sejak lama, sejak puluhan tahun lalu. Sekarang, usaha itu tetap bertahan. Padahal genting made in Grogol harus bersaing dengan genting sintetis, spandek, dan asbes, produksi pabrik. 

"Ada 50 pengrajin genting di Grogol," kata Kepala Desa (Kades) Grogol, Kecamatan Weru, Heri Putut, kepada Solopos, Minggu (26/5/2019). 

Usaha kerajinan genting ini tersebar di beberapa dukuh di antaranya Dukuh Nambangan, Sidorejo, Kresan, dan Sorobujan. 

“20 Tahun lebih memproduksi genting. Produksi genting tergantung cuaca,” kata Heri.

Sama halnya bisnis industri kecil lain, produksi genting juga mengalami pasang surut. Kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, selain permintaan konsumen, cuaca, juga persediaan bahan baku. Beruntung sejauh ini tanah liat sangat berlimpah. 

Genting Grogol dipasarkan hingga luar daerah. Haganya dianggap lebih murah dibandingkan wilayah lain. Selain genting, potensi ekonomi lainnya adalah tenun lurik. Industri ini dikelola organisasi bentukan pemerintah desa bernama Paguyuban Tenun Sari. Jumlah pengrajin saat ini mencapai puluhan orang.

Pengerjaannya diserahkan kepada anggota paguyuban di rumah masing-masing. Mereka memiliki alat produksi sendiri. Pemerintah desa dan paguyuban hanya memfasilitasi bahan-bahan produksi dan penyuluhan baik penyaluran maupun pengembangan hasil produksi. 

Mengampanyekan pemakaian lurik, Pemerintah Desa Grogol memutuskan seragam ibu-ibu PKK menggunakan kain lurik yang diproduksi warga.
Sanikem, salah satu pengrajin lurik, mengatakan pembuatan tenun lurik dikerjakan industri kecil dan rumah tangga yang merupaka warisan turun-temurun.

Dia menggeluti usaha itu sejak 20 tahun lalu. Dalam sebulan, dia menghasilkan 40-an potong kain tenun. "Kerajinan tenun saat ini menyokong ekonomi warga," katanya.