Baru Mulai Kemarau, Wilayah di Klaten Ini Sudah Krisis Air Bersih

Warga mengantre bantuan air bersih dari PDAM Tirta Merapi Klaten di Desa Demangan, Kecamatan Karangdowo, Klaten, Jumat (7/9/2018). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
27 Mei 2019 17:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Beberapa wilayah di Kabupaten Klaten sudah mengalami krisis air bersih meski kemarau baru berlangsung beberapa hari. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyalurkan bantuan air ke daerah tersebut.

Pengiriman perdana bantuan air bersih ditujukan ke Desa Kendalsari, Kecamatan Kemalang, sebanyak empat truk tangki. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Klaten, Sri Yuwana Haris Yulianta, mengatakan pengiriman air bersih tersebut dilakukan Senin (27/5/2019).

Bantuan disalurkan melalui bak penampungan air tempat ibadah. Pengiriman bantuan air bersih itu dilakukan setelah ada surat permintaan bantuan air bersih dari pemerintah desa setempat.

Selain Desa Kendalsari, pemerintah Desa Temuireng, Kecamatan Jatinom, juga sudah meminta bantuan air bersih. “Fokus dropping pekan ini untuk menyuplai kebutuhan air di masjid atau musala menjelang Idul Fitri,” kata Haris saat dihubungi Solopos.com, Senin.

Haris mengatakan total anggaran untuk bantuan air bersih pada APBD 2019 dialokasikan Rp200 juta. Rencananya, pengiriman air bersih dilakukan hingga akhir Oktober 2019 selama ada surat permintaan dari daerah.

“Rencana kami total bantuan yang diserahkan ada 800 tangki untuk seluruh wilayah Klaten,” ungkapnya.

Plt. Kepala BPBD Klaten, Dodhy Hermanu, mengatakan ada lima truk tangki yang disiapkan di BPBD guna melayani bantuan air bersih. Sementara dua truk tangki disiagakan di kantor Kecamatan Kemalang guna membantu pelayanan dropping air bersih di daerah lereng Merapi tersebut.

Dodhy mengatakan bantuan air bersih diberikan selama ada surat permohonan dari pemerintah desa. Ia memperkirakan anggaran yang disiapkan cukup untuk menyalurkan bantuan air bersih selama kemarau tahun ini.

“Insyaallah cukup. Kan selain dari BPBD, ada dropping air bersih juga dari lainnya seperti PMI, PDAM, atau kalangan swasta,” urai dia.

Kepala Desa Kendalsari, Supadi, mengatakan krisis air bersih terjadi mulai sekitar sepekan lalu. Lantaran hal itu, pemerintah desa setempat membuat proposal dan mengajukannya ke BPBD agar mendapatkan bantuan air bersih.

“Warga kami ketika memasuki kemarau dan berjalan selama 10 hari sudah kehabisan air bersih. Makanya, warga mulai membeli air,” katanya.

Untuk mendapatkan air bersih saat kemarau, warga Kendalsari membeli air dari penyedia jasa air bersih. Harga satu truk tangki ukuran 5.000 liter bervariasi tergantung lokasi dan jarak tempuh rumah warga.

“Hitungannya tergantung jarak. Paling dekat itu Rp90.000/tangki dan paling jauh Rp200.000/tangki,” jelas dia.

Soal penggunaan, Supadi juga menjelaskan tergantung dari masing-masing keluarga. Ia mencontohkan penggunaan air bersih keluarganya bisa menghabiskan 25 tangki air bersih sepanjang kemarau atau sekitar enam bulan.

Satu tangki air bersih bisa untuk memenuhi kebutuhan selama tujuh hingga 10 hari. Disinggung jumlah warga terdampak krisis air bersih, Supadi menjelaskan selama ini hanya satu RT yang terdiri atas 30 keluarga sudah terbebas dari krisis air bersih saban kemarau tiba.

“Warga kami tersebut mendapatkan aliran air bersih dari sumur pamsimas wilayah Desa Sukorini, Manisrenggo. Sementara, jumlah penduduk kami ada 1.300-an keluarga,” urai dia.