Kuliner Tradisional Kedunggudel Sukoharjo

Pegiat budaya asal Dusun Kedunggudel, Kelurahan Kenep, Sehono, memperlihatkan kue bangket di rumahnya, Kamis (23/5 - 2019). (Solopos/Bony Eko W.)
31 Mei 2019 00:00 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Dusun Kedunggudel di Kelurahan Kenep, Kecamatan Sukoharjo, layak menyandang predikat sebagai kampung kreatif. Di wilayah itu terdapat berbagai potensi desa baik kuliner tradisional, budaya hingga peninggalan sejarah yang memiliki nilai histori tinggi. Salah satu produk penganan tradisional yang masih bertahan hingga sekarang adalah kue bangket.

Kue kering berbentuk segi lima dan bulan sabit ini menjadi penganan asli Dusun Kedunggudel, Kelurahan Kenep. Dahulu, para pembuat kue bangket di Dusun Kedunggudel berjumlah belasan hingga puluhan orang. Mereka memproduksi kue bangket untuk penganan sehari-hari atau saat menjamu tamu di rumah.

Menjelang Lebaran, tingkat permintaan kue bangket melonjak tajam dibanding hari biasa. “Biasanya saya membuat kue bangket sekali dalam tiga pekan sebanyak 25 kg. Nah, menjelang Lebaran saya hampir setiap hari [membuat kue bangket] lantaran order permintaan meningkat tajam,” kata seorang pembuat kue bangket asal Dusun Kedunggudel, Siti Alimah, saat berbincang dengan Solopos, Kamis (23/5/2019).

Harga kue bangket dibanderol dengan harga  Rp110.000 per kilogram (kg). Siti tak menaikkan harga kue bangket kendati pesanan dari pelanggan membeludak. Mayoritas para kaum boro memesan kue bangket saat mudik ke kampung halaman. Mereka juga membawa kue bangket untuk oleh-oleh yang dibagikan kepada kerabat keluarga, teman kerja atau tetangga rumah.

Siti ingin menjaga citarasa kue bangket sebagai penganan tradisional yang jarang ditemui di pasar tradisional. “Pewaris pembuat kue bangket bisa dihitung dengan jari. Proses pembuatannya pun tradisional karena saya tak ingin citarasa kue berkurang,” ujar dia.

Proses pembuatan kue bangket mulai dari menyiapkan bahan berupa tepung terigu, telur, kelapa. Bahan itu dicampur dalam adonan. Kemudian adonan dicampur santan kelapa. Adonan kue dipanggang di oven selama sekitar 30 menit. Kue bangket lantas dikeringkan di ruangan selama beberapa jam.

Sementara itu, pegiat budaya asal Dusun Kedunggudel, Kelurahan Kenep, Sehono, menyatakan zaman dahulu, kue bangket menjadi penganan favorit Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Raja Keraton selalu menikmati gurihnya kue bangket saat beraktivitas di wilayah Dusun Kedunggudel. Penganan tradisional itu disajikan bersama secangkir teh panas atau kopi.

Menurut Sehono, kue bangket merupakan penganan tradisinal warisan nenek moyang yang harus dilestarikan dan dijaga. “Banyak peninggalan sejarah berupa bangunan dan masjid kuno yang berhubungan erat dengan Keraton. Termasuk kue bangket yang menjadi penganan kegemaran Paku Buwono (PB) VI,” kata dia.