Puluhan Tugu Dirobohkan, Warga Wonogiri Berharap Tak Ada Lagi Konflik Perguruan Silat

Tugu PSHT di mulut jalan Dusun Rejosari, Ngadirojo Kidul, Ngadirojo, Wonogiri, tinggal puing-puing, Senin (3/6/2019). (Solopos - Rudi Hartono)
04 Juni 2019 15:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Warga Wonogiri berharap kerusuhan saat konvoi perguruan silat pada Rabu (8/5/2019) malam lalu menjadi yang terakhir. Konflik antarperguruan silat diharapkan berakhir dengan dirobohkannya 42 tugu perguruan silat pada Sabtu (1/6/2019) lalu.

Tugu perguruan silat di suatu daerah disebut kerap memicu konflik antara perguruan satu dengan lainnya. Hanya masalah sepele saja, misalnya tugu dicoret-coret, bisa memancing emosi anggota perguruan pemilik tugu itu.

Bahkan pada malam mencekam yang mengakibatkan mantan Kasatreskrim Polres Wonogiri, AKP Aditia Mulya Ramdhani, koma hingga sekarang juga diwarnai perusakan tugu. Bayangan situasi mencekam itu masih tertanam di benak Didik Kurniawan, 42, warga Dusun Manggis RT 002/RW 011, Ngadirojo Kidul, Ngadirojo, Wonogiri.

Masih segar di ingatannya suara raungan motor massa perguruan silat yang berkonvoi dari arah barat di jalan raya malam itu. Suara geberan sepeda motor dan teriakan-teriakan menjadi satu menusuk telinga dan jantung berdegup kencang.

Didik khawatir massa masuk kampungnya yang merupakan basis Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo (PSHW). Anggota keluarganya pun ketakutan. Mereka menunggu massa pergi.

Namun, suasana mencekam tak kunjung sirna. Kehadiran polisi yang membawa senjata lengkap sedikit meredam kekhawatiran mereka. Berkat blokade dan petugas polisi yang bersiaga, massa dapat dicegah masuk kampung.

Didik menyebut kondisi saat itu seperti mau ada perang. Kala itu dia sangat khawatir, jika masuk kampung massa akan merusak rumah warga dan menganiaya siapa pun yang mereka jumpai.

Menurut dia massa mengetahui banyak pemuda Dusun Manggis yang menjadi anggota PSHW karena ada tugu PSHW di tepi jalan. “Tugu itu sudah dirobohkan, Sabtu pekan lalu [1/6/2019]. Informasinya seluruh tugu perguruan di Wonogiri dirobohkan. Itu langkah yang tepat,” ucap Didik saat berbincang dengan Solopos.com, Senin (3/6/2019).

Menurut dia, tugu dapat memicu konflik antaranggota yang berbeda perguruan, terutama jika ada yang mencoret-coret tugu atau tindakan lainnya yang menyinggung anggota perguruan. Dia berharap konflik antaranggota perguruan hilang selamanya bersamaan dengan robohnya tugu.

“Tugu seolah menjadi penanda kawasan yang terdapat tugu adalah wilayah kekuasaan. Kesannya menjadi tidak baik. Semoga setelah tugu dirobohkan, tidak ada lagi konflik,” imbuh Didik.

Warga Rejosari RT 001/RW 005, Ngadirojo Kidul, Yuni, menyampaikan hal senada. Dia bersyukur tugu Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di mulut jalan masuk kampung dirobohkan petugas, Sabtu pekan lalu.

Perempuan itu menilai lebih baik tidak ada tugu perguruan daripada menimbulkan kekacauan. Dia trauma dengan peristiwa 8 Mei lalu. Saat itu ribuan massa melewati depan rumahnya. Dia dan keluarganya tak berani keluar rumah supaya tidak menjadi korban salah sasaran.

Pantauan Solopos.com di Manggis dan Rejosari, Senin, tugu PSHW dan PSHT di dua dusun tersebut tinggal puing-puing. Tiang dekat lokasi bekas tugu PSHT didirikan di Rejosari, terdapat selebaran yang berisi penolakan perobohan tugu.

Meski pengurus tingkat cabang kedua perguruan silat itu sudah sepakat merobohkan tugu, anggota perguruan di tingkat bawah tak semua setuju. Kesepakatan dicapai saat rapat koordinasi (rakor) Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) di Mapolres, Jumat (31/5/2019) lalu.

Saat itu ada pengurus tingkat ranting dari kedua perguruan yang mempertanyakan alasan perobohan dan meminta solusi lain selain perobohan tugu. “Tapi karena pengurus tingkat atas [cabang] sudah membuat keputusan, anggota enggak bisa apa-apa. Manut saja lah,” kata To, 21, anggota PSHT Ngadirojo saat ditemui Solopos.com.

Ketua PSHW Cabang Wonogiri, Riyanto, saat rakor mengaku hatinya sakit karena tugu akan dihancurkan. Namun, dia mengesampingkannya demi kepentingan masyarakat. Dia tak memungkiri tugu adalah hal yang paling mudah digunakan untuk provokasi.

Pengurus PSHT, Sugiyanto, saat itu tak mempermasalahkan tugu dirobohkan. Bagi dia yang terpenting adalah ajaran perguruan, bukan tugu. Meski tugu dirobohkan ajaran yang penuh nilai-nilai positif terus hidup.

Pengurus PSHT dan PSHW Wonogiri sepakat seluruh tugu dirobohkan paling lambat Minggu (2/6/2019) lalu. Polisi mencatat tugu PSHT dan PSHW ada 108 unit yang tersebar di beberapa kecamatan.