Ikuti Tradisi, Open House Bupati Wonogiri Digelar Besok di Rumah Pribadi

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo (dua dari kiri), mendengarkan ceramah seusai menjalankan Salat Idul Fitri di Lapangan Desa Pule, Selogiri, Wonogiri, Rabu (5/6/2019) pagi. (Solopos - Rudi Hartono)
05 Juni 2019 11:45 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Bupati Wonogiri Joko Sutopo tidak langsung menggelar open house sesuai Salat Idulfitri, Rabu (5/6/2019), seperti yang dilakukan beberapa kepala daerah lain di Soloraya.

Dia akan mengadakan open house di kediaman pribadinya di Desa Jaten, Selogiri, Wonogiri, Kamis (6/6/2019) atau H+1 Lebaran. Pertimbangannya, sesuai tradisi, warga Wonogiri biasanya baru saling bermaaf-maafan dengan warga sekitar pada Lebaran hari kedua.

Meski baru menggelar open house besok, setiap tamu yang datang untuk bersilaturahmi tetap diterima. Ribuan warga diperkirakan datang ke open house di rumah pribadi Joko Sutopo.

Bupati yang disapa Jekek itu bersama keluarganya pada Rabu pagi mengikuti Salat Idulfitri di Lapangan Desa Pule, Selogirri, Wonogiri. Ribuan warga mengikuti Salat Id di lapangan tersebut.

Hariyadi selaku khatib dalam ceramahnya mengajak jemaah menengok ke belakang untuk melihat perang saudara di Uni Soviet, Yugoslavia, dan negara-negara Timur Tengah yang saat ini sedang menghadapi perang, seperti Irak, Suriah, Libia, dan Yaman.

Dalam situasi yang kacau penduduk tidak mungkin bisa tenang, apalagi makmur. Kesempatan beribadah menjadi sempit, apalagi menunaikan ibadah sosial.

Bercermin dari kondisi itu, khatib dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Wonogiri tersebut mengajak jemaah selalu bersatu meski berbeda-beda pandangan politik.

“Baginda Rasulullah Muhammad SAW telah memberi ketauladanan dalam membina kesatuan bangsa di Madinah. Kendati penduduk Madinah berbeda agama, suku, dan kepercayaan, tetapi mereka bisa menjadi saudara yang diikat dalam Piagam Madinah yang berisi kalimat kebangsaan Nabi Muhammad SAW, mereka yang tidak seagama mempunyai hak kewarganegaraan sebagaimana hak kaum muslimin dan mereka mempunyai kewajiban kewarganegaraan yang sama sebagainama kewajiban kewarganegaraan kaum muslim,” ucap dia.

Dia melanjutkan setiap orang boleh berkumpul dan berserikat atau berorganisasi, tetapi hendaknya organisasi memberikan manfaat bagi banyak orang. Namun, Allah melarang perkumpulan yang justru menebar perselisihan dan permusuhan.

Perbedaan dan keragaman adalah keniscayaan yang dikehendaki Allah SWT untuk seluruh umat seperti terdapat dalam Surat Almaidah ayat 48. Seandainya Allah menghendaki, manusia bisa dijadikan satu umat saja, tetapi hal itu tidak dikehendaki-Nya. Manusia dijadikan berbeda-beda untuk menguji manusia, karena itu berlomba-lomba lah dalam kebajikan.

“Dengan Beridul Fitri semestinya sadar bahwa asal kejadian manusia adalah dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Oleh karena itu manusia harus memahami jati dirinya bahwa tanah memilik sifat relatif stabil, menumbuhkan, dan dibutuhkan manusia dan makhluk hidup lainnya,” imbuh katib.

Bupati Joko Sutopo sepakat dengan isi ceramah tersebut. Menurut dia setiap tokoh sudah semestinya menyampaikan hal yang menyejukkan, bukan sebaliknya. Dia berharap Idul Fitri menjadi momentum untu kembali merajut persatuan yang sempat terkoyak karena perbedaan pandangan atau pilihan dalam berdemokrasi.

Pada kesempatan itu Bupati bersama anak semata wayangnya berbaur bersama warga. Warga antusias menyalami lelaki yang akrab disapa Jekek itu. Tak ada sekat di antara mereka. Selama perjalanan pulang dia menyapa setiap orang yang dijumpainya dan melayani warga yang meminta bersalaman.