11 Keluarga Ikuti Ajaran Kiamat Sudah Dekat Kembali ke Boyolali

Warga berjalan di depan rumah milik Agus Salim, yang diduga pengikut ajaran kiamat sudah dekat di Andong, Boyolali, Jumat (22/3/2019) pagi. (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
08 Juni 2019 20:30 WIB Nadia Luthfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Sebelas keluarga dengan 38 jiwa asal Dusun Jengglong, Desa Sempu, Andong, Boyolali, yang sempat pergi ke Malang karena mengikuti ajaran kiamat sudah dekat kembali pulang ke Boyolali untuk merayakan Idulfitri, Rabu (5/6/2019).

Mereka tiba di Sempu sejak beberapa hari sebelum Idulfitri. Sebelumnya 38 warga itu pergi ke pondok pesantren di Malang, Jawa Timur, untuk belajar agama Islam.

Kabar kepulangan tersebut dibenarkan tokoh masyarakat yang juga mantan Kepala Desa Sempu, Suyatna. “Iya hari ini mereka masih di rumah,” ujar Suyatna kepada Solopos.com, Sabtu (8/6/2019).

Dia menuturkan 38 warga itu kembali secara berangsur-angsur sejak beberapa hari sebelum Lebaran. Suyatna juga memastikan 38 orang tersebut kini telah berada di tempat tinggal masing-masing.

Suyatna menyebut tidak ada yang aneh dengan sikap 11 keluarga tersebut. Mereka tetap menjalankan salat dan merayakan Idulfitri seperti warga pada umumnya. Kabar kepulangan warga ini juga dibenarkan sejumlah warga.

Nurya, warga Desa Sumber yang berbatasan langsung dengan Desa Sempu, mengatakan seorang pedagang di Pasar Batangan yang pergi ke Malang telah kembali membuka kiosnya.

“Kios pedagang yang tutup [karena ditinggal pergi ke Malang] sekarang sudah buka lagi,” tutur Nurya.

Pasar Batangan terletak di perbatasan kedua desa tersebut. Terpisah, Kapolsek Andong, AKP Warsito, mengatakan warga yang diduga terpapar ajaran kiamat sudah dekat itu sebelumnya pernah pulang ke Boyolali sebelum Pemilu, April lalu.

“Pernah pulang sebelum pemilu, beberapa hari di rumah kemudian kembali lagi ke sana [Malang],” ujar Kapolsek.

Seperti diketahui, 11 keluarga dengan 38 jiwa pergi ke Malang sejak awal Maret 2019. Mereka pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan pemerintah desa setempat.

Seperti yang sudah direncanakan, warga tinggal di pondok pesantren di Malang selama tiga bulan yaitu Rajab, Ruwah, dan Ramadan. “Setelah pulang belum terdengar rencana mereka berangkat lagi,” imbuh Suyatna.