Bukit Pertapan Klaten, Dulu Tempat Bertapa Kini Jadi Wisata

Pekerja menaiki tangga di Bukit Pertapan, Desa Kebon, Kecamatan Bayat. (Solopos.com/Taufik Sidik Prakoso)
08 Juni 2019 21:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN - Bukit Pertapan belakangan dikenal sebagai salah satu objek wisata baru di wilayah Kecamatan Bayat. Berada pada ketinggian 250 meter di atas permukaan laut (Mdpl), perbukitan yang berada di Dukuh Konang, Desa Kebon, Kecamatan Bayat tersebut menawarkan panorama Klaten serta Gunungkidul, DIY.

Jauh sebelum dikenal sebagai tempat wisata, bukit tersebut sudah diberi nama Pertapan. Bukit itu diyakini menjadi tempat cikal bakal Desa Kebon, Panembahan Menanglase, untuk mengasingkan diri dari keramaian dunia atau bertapa.

Kepala Desa Kebon, Sukaca, menceritakan Panembahan Menanglase merupakan santri Syeh Kewel, salah satu murid Sunan Pandanaran, seorang alim yang menyiarkan Islam dari wilayah Bayat. Panembahan Menanglase disebut-sebut masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sunan Pandanaran.

Oleh Syeh Kewel, Panembahan Menanglase mendapatkan tugas menyiarkan agama Islam seperti santri lainnya. Ia mendapatkan tugas menyebarkan Islam di wilayah Desa Kebon. Di Desa Kebon, Panembahan Menanglase memilih menetap di kawasan perbukitan tertinggi di desa tersebut.

Di bukit itulah ia membuat pemondokan, musala, serta tempat bertapa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. “Panembahan Menanglase mendapatkan petunjuk untuk bertapa di bawah sambi lencir. Sambi merupakan salah satu jenis pohon sementara lencir artinya ramping,” jelas dia saat ditemui Solopos.com.

Sukaca menceritakan dulu bukit tertinggi tersebut kerap digunakan untuk bertapa sejumlah orang lantaran tempatnya yang sunyi. Hingga akhirnya diberi nama Bukit Pertapan. “Panembahan Menanglase dimakamkan di Dukuh Konang. Petilasan Panembahan Menanglase masih ada dan diabadikan. Sementara, musala dan pondoknya sudah tidak ada,” jelas dia.

Sukaca mengatakan selain memiliki nilai sejarah, Bukit Pertapan selama ini memiliki nilai edukasi. Bukit tersebut menjadi salah satu laboratorium geologi UGM lantaran struktur bantuannya berukur sekitar 100 juta tahun. Kawasan perbukitan itu disebut menjadi satu dari tiga daerah di Pulau Jawa yang memiliki fenomena geologi tersingkapnya batuan tertua yakni di Bayat, Karangsambung, Kebumen, dan Ciletuh, Jawa Barat.

Sekretaris Desa Kebon, Suyadi, menjelaskan Bukit Pertapan beberapa tahun terakhir ditata untuk disiapkan sebagai wisata alam dan edukasi. Penyiapan kawasan wisata tersebut melengkapi potensi yang sudah ada di desa setempat yang dikenal sebagai salah satu sentra perajin batik pewarna alami.