Pengemis dan Tukang Sapu Dadakan Serbu TPU Pracimaloyo Sukoharjo

Salah satu petugas dadakan kebersihan makam di TPU Pracimaloyo, Makamhaji, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Petugas pembersih makam dadakan ini menjamur selama Lebaran. Foto diambil Minggu (9/6/2019). (Solopos - Indah Septiyaning W.)
09 Juni 2019 14:45 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO — Puluhan pengemis dan tukang sapu dadakan membanjiri tempat permakaman umum (TPU) di Kabupaten Sukoharjo. Mereka memanfaatkan tradisi nyekar atau ziarah ke makam leluhur saat musim Lebaran.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Minggu (9/6/2019), pengemis dan tukang sapu dadakan, baik lanjut usia (lansia) maupun anak-anak menyerbu makam di TPU Pracimaloyo, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.

Mereka datang bergerombol, sebagian membawa sapu dan cangkul membersihkan rumput yang tumbuh di sekitar makam. Mereka kemudian menyerbu setiap peziarah. Tradisi nyekar biasa dilakukan masyarakat Jawa seusia Lebaran. 

Seperti halnya, Mardiyani, warga Kartasura yang  selalu memanfaatkan momentum Lebaran untuk mencari rezeki dari makam. Dia mengaku bersama ratusan warga lainnya menjadi pengemis serta tukang sapu dadakan.

“Tiap menjelang sampai setelah Lebaran seperti ini, saya ke makam jadi tukang sapu. Anak juga senang kalau diajak ke sini untuk minta sedekah dari ahli waris. Lumayan dapat uang dari peziarah,” ujarnya ketika dijumpai Solopos.com

Senada disampaikan  warga lain, Ambar.  Bagi wanita yang setiap harinya bekerja membersihkan makam itu, hal yang selalu ditunggu adalah hari sebelum puasa dan Lebaran. Hal ini lantaran bisa bertemu ahli waris makam. 

“Ya, kalau tidak sekarang kapan lagi saya mendapat upah karena mereka juga datangnya setahun sekali, menjelang puasa dan Lebaran,” ungkapnya.

10 tahun terakhir bekerja sebagai pembersih makam, dia mengaku setelah sholat ied banyak peziarah yang datang. Jika lebaran seperti ini, penghasilan bisa 3-4 kali lipat dibandingkan hari biasa. Dia mengaku, saat musim Lebaran sudah meraih pendapatan sekitar Rp2 juta lebih.

"Banyak peziarah yang datang, biasa mereka memberi uang Rp20.000 - Rp 100.000," katanya.

Sementara itu, Sadono, peziarah asal Jakarta mengaku, kegiatan berziarah ke makam saat Lebaran merupakan sebuah budaya yang sudah mengakar di masyarakat. Baginya, ada sesuatu yang kurang bila belum berkunjung ke makam keluarga. Selain itu juga sebagai kesempatannya untuk melihat kondisi makam keluarga.

“Rutin berziarah ke makam keluarga setiap tahun. Kita datang ke sini ziarah sebelum pulang ke Jakarta nanti malam. Tapi sebenarnya risih juga, karena banyak sekali pengemis kecil dan lansia yang selalu menguntit kalau belum dikasih,” keluhnya. 

Dia menyiapkan uang recehan untuk memberi pengemis dan tukang sapu. Mereka biasanya langsung berkumpul dan merubung, bahkan beberapa meminta secara paksa. “Kalau tidak dikasih, kadang ngikutin sampai kita pulang,” tuturnya seusai mengunjungi makam..

Peziarah lain dari Wonogiri, Widodo juga mengeluhkan banyaknya pengemis dan tukang sapu musiman di Makam Pracimaloyo. Mereka meminta uang sedekah. “Jumlahnya sampai banyak sekali. Untung tadi bawa banyak uang recehan.”