Dinas Pendidikan Solo Tak Lagi Bikin Daftar Peringkat UN SMP, Kenapa?

Ilustrasi pelajar SMP (Solopos/Whisnupaksa Kridangkara)
10 Juni 2019 04:00 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Dinas Pendidikan (Disdik) Solo tidak lagi membuat pemeringkatan nilai Ujian Nasional (UN) SMP baik negeri maupun swasta.

Hal tersebut disebabkan sistem zonasi. Demikian disampaikan Kepala Bidang (Kabid) SMP Disdik Kota Solo, Bambang Wahyono. Sejak tiga tahun lalu Disdik tidak lagi membuat peringkat sekolah yang mendapatkan nilai UN tertinggi.

“Disdik Solo sudah tidak membuat peringkat daftar sekolah yang siswanya mendapat nilai UN tertinggi. Kalau ada sekolah negeri atau swasta yang membuat peringkat itu, saya pastikan bukan Disdik yang membuat,” ujar dia saat dihubungi Solopos.com melalui sambungan telepon, Senin (3/6/2019).

Dengan tidak dipublikasikannya peringkat, Bambang berharap orang tua memiliki kesadaran untuk menyekolahkan putra-putrinya sesuai sistem zonasi. Dengan demikian peningkatan mutu pendidikan yang merata segera terwujud.

"Semua sekolah memiliki potensi untuk menjadi sekolah favorit. Jadi semua mampu bersaing untuk meraih peringkat atas, baik di bidang akademik maupun nonakademik,” ujar dia.

Bambang menjelaskan pada dasarnya semua anak merupakan juara di bidangnya masing-masing. Dengan adanya zonasi diharapkan sekolah maupun orang tua mampu melihat dan mengembangkan potensi anak di mana pun mereka bersekolah.

"Sistem zonasi diharapkan mampu memberikan kualitas yang sama dan pemerataan di sekolah negeri. Dengan begitu tidak ada istilah sekolah favorit, sekolah tidak bagus, dan sebagainya. Sistem zonasi juga bertujuan mengurangi jumlah siswa yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah,” ujar dia.

Mengubah pola pikir masyarakat tentang sekolah favorit atau sekolah tidak favorit merupakan tantangan berat bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. ”Masih sulit mengubah pola pikir masyarakat akan sekolah favorit dan nonfavorit. Dengan tidak membuat peringkat siswa yang memiliki nilai tinggi, saya berharap dapat mengurangi pola pikir masyarakat mengenai sekolah favorit dan nonfavorit,” kata dia.