Kenangan Ramadan, Khusyuk Berdoa Sampai Tidur Lelap di Masjid

Warga membaca Alquran, di serambi Masjid Agung Solo, Kamis (30/5 - 2019) dini hari. Mereka menjalani iktikaf saat malam Ramadan. (Solopos - Nicolous Irawan)
10 Juni 2019 12:00 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Masjid menjadi begitu lekat dengan masyarakat saat Ramadan. Khusyuk berdoa sampai tertidur lelap di masjid adalah kenangan Ramadan bagi warga muslim di Indonesia.

Terdengar lantunan bacaan Alquran yang pelan dan saling bersautan di serambi Masjid Agung Solo, Sabtu (1/6/2019). Masjid tersebut berada di Kauman, Pasar Kliwon, Solo.

Ratusan pengunjung khusyuk dengan berbagai aktivitas mereka. Ada yang membaca Alquran, salat, zikir, bahkan terlelap di lantai serambi masjid. Ramadan menjadi waktu spesial bagi umat Islam untuk mendapatkan keberkahan dunia dan akhirat.

Waktu menunjukkan pukul 11.59 WIB. Orang-orang bangkit dan berwudu. Mereka bersiap mengikuti Salat Zuhur berjemaah. Setelah salat selesai, mereka melanjutkan kembali aktivitas masing-masing. Ada yang beristirahat sembari memainkan ponselnya. Ada juga yang memilih tidur di masjid.

Di pojok kanan masjid, ada seorang remaja mengenakan baju koko berwarna biru muda. Dia duduk sembari membaca Alquran kecil. Ia membaca surat-surat Alquran dengan cepat. Remaja tersebut bernama Muhammad Iqbal, warga Boyolali.

Iqbal bercerita sudah sejak pukul 10.00 WIB berada di pojokan serambi masjid yang selesai dibangun pada 1768 tersebut. Tidak ada tanda-tanda kantuk di wajahnya. Ia menyebut bermalasan dapat mengganggu staminanya.

“Ramadan, banyak orang yang berbondong–bondong mencari pahala dengan aktivitas apa pun. Dengan cara tidur, membaca Alquran, dan bersedekah,” ujarnya saat ditemui Solopos.com, Sabtu.

Sebelum menuju Kabupaten Wonogiri, dirinya selalu menyempatkan diri mengunjungi Masjid Agung Solo. “Setiap Ramadan, saat pulang ke Kabupaten Wonogiri selalu mampir ke masjid ini. Beda aja suasananya dengan masjid lain. Banyak pendatang dari berbagai daerah yang kerap saya temui ketika berkunjung ke masjid ini [Masjid Agung Solo],” kata dia.

Pegawai Pasar Klewer Solo, Erwin Syamsudin, mangaku menghabiskan waktu istirahat kerjanya untuk tidur di Masjid Agung Solo. “Jam istirahat saya mulai pukul 11.30 WIB hingga 13.00 WIB. Sehabis salat berjemaah, saya gunakan untuk tidur di sini. Di masjid ini suasanya adem, apalagi tidur di lantai masjid,” ujarnya.

Selama Ramadan banyak pengunjung yang beristirahat di Masjid Agung Solo. “Pengunjung dari luar Solo. Mereka kebanyakan menunggu istri atau anak mereka yang berbelanja di Pasar Klewer. Lumayan suasananya adem di sini,” kata dia.

Sementara itu, di Masjid Al Fattah, Manahan, Banjarsari, terlihat anak-anak datang untuk mengaji setiap sore. Beberapa anak yang mengenakan pakaian koko dan sarung berlarian di dalam masjid. Para siswa SD itu melantunkan surat-surat pendek Alquran menyerupai lantunan musik yang merdu. mereka mengikuti kegiatan Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang digelar rutin setiap hari selama Ramadan.

Menurut warga sekitar, Siti Aisyah, TPA sebelumnya hanya berjalan tiga kali dalam sepekan. “Anak saya juga ikut TPA di masjid ini. Sebelum puasa hanya beberapa siswa yang datang. Tetapi selama Ramadan ini peserta TPA bisa mencapai 30 anak,” kata dia.

Jam menunjukan pukul 17.00 WIB. Terlihat warga sekitar baik ibu dan para bapak ikut menyiapkan segala kebutuhan berbuka puasa di masjid tersebut. Semakin sore, semakin banyak warga datang bergotong royong.

Tangan para ibu cekatan menyendok nasi dan membagi lauk. Setelah semua siap, giliran para remaja memenuhi dapur. Mereka menuangkan teh hangat yang baru selesai diseduh ke dalam teko dan gelas. Dengan nampan besar, teh itu diedarkan pada seluruh siswa-siswi TPA yang sudah berkumpul di halaman masjid.

“Wah suasananya enggak kalah sama nyinom,” ujar Siti yang membawa nampan berisi makanan.

Buka puasa ditandai dengan sirene yang dibunyikan lewat pengeras suara masjid. Tak ada siswa yang melewatkan buka puasa tersebut bersama-sama. Guru TPA, Kusnadi mengatakan selama bulan puasa warga sekitar menjadi donatur untuk menyokong kebutuhan buka bersama.

Tiap hari, sekitar lima hingga delapan grup rukun tetangga (RT) menyediakan menu berbuka puasa di masjid tersebut. Ia tak memungkiri, lewat kegiatan menyediakan menu makanan tersebut jalinan kerukunan warga menjadi semakin kuat. Apalagi setelah selesai, ibu-ibu masih mencuci piring dan membagikan sisa makanan kepada warga sekitar.

“Iya ada siswa yang membawa piring, atau bapak-bapak yang setelah Salat Magrib mampir sekalian buka puasa. Mau warga manapun yang berkunjung ke masjid kami berikan menu buka puasa,” ujarnya.