Bubur Samin Masjid Darussalam Solo Potret Kebersamaan Warga Sejak 1985

Warga Jayengan, Serengan, Solo, membuat bubur samin di Masjid Darussalam, Senin (3/6 - 2019). (Tamara Geraldine)
11 Juni 2019 04:00 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Salah satu yang unik di Kota Solo saat Ramadan adalah pembagian bubur samin, bubur khas Kalimantan, secara gratis di Masjid Darussalam. Bubur ini merupakan potret kebersamaan warga sejak 1985.

Masjid Darussalam hampir tak pernah sepi saat Ramadan. Masjid bercat hijau muda di Jl. Gatot Subroto No. 181, Jayengan, Serengan, Solo, itu hidup sejak azan Subuh berkumandang. Meski tak ada hiasan di sepanjang jalan layaknya kemeriahan kampung Ramadan, kebersamaan di dapur umum yang dihadirkan masjid ini sejak 1985 lalu menyuarakan pesan kebersamaan.

Seorang warga, Tanti, 50, mulai menyelonjorkan kaki seusai Salat Subuh. Pukul 06.00 WIB dia harus bergegas ke Pasar Kadipolo, Panularan, Laweyan. Mengajak seorang tetangga, ibu rumah tangga ini berbelanja berbagai macam kebutuhan.

Pada Kamis pagi (30/5/2019), ibu-ibu kampung di dekat masjid itu sudah bersepakat memasak sayur tumpeng krecek. Menu itu menjadi hidangan buka puasa yang didampingi bubur samin. Menu berganti setiap hari. Tanti yang menjadi koordinator kegiatan buka puasa harus pintar-pintar memutar otak mencari bahan belanjaan.

“Bisa dua kantong plastik besar dibawa tiap pagi. Ada sayuran, tahu, krecek, dan bumbon [bumbu pawon]. Sayur ini hanya pelengkap bubur samin. Banyak warga yang setelah mendapatkan bubur samin lalu meminta sayur,” ungkap Tanti saat berbincang dengan Solopos.com di lingkungan masjid, Kamis pagi.

Setiap hari, masjid ini menyediakan bubur samin dan aneka sayur untuk buka puasa, termasuk hidangan takjil dan buah. Setelah menaruh hasil belanjaan, urusan diambil alih Sumini, yang bertanggung jawab memasak.

Sisi timur masjid disulap layaknya dapur umum. Empat kompor gas, dandang berukuran jumbo untuk membuat bubur samin, ditempatkan di sana. Tanti terlihat cekatan di dapur. Dia mengoordinasi beberapa ibu-ibu kampung memasak.

Tenaga sukarela yang datang diberinya tugas masing-masing. Ada yang memotong sayur, menumbuk bumbu, dan membersihkan peralatan dapur. Semuanya dilakukan sendiri oleh warga kampung secara swadaya. “Tiap pagi ibu-ibu masak. Selesainya bisa sampai pukul 13.00 WIB. Buburnya selesai dimasak pukul 15.00 WIB,” ujar Tanti.

Meski tanpa imbalan, semua orang melakukan aktivitas dengan suka cita. Di dapur, sembari memasak ibu-ibu juga ramai berbincang tentang apa saja. "Mungkin itu yang bikin menyenangkan,” tambah Tanti.

Selepas azan Asar, kesibukan bertambah. Tak hanya ibu-ibu yang terus berada di dapur. Bapak–bapak juga mulai bersiap membagikan bubur samin kepada warga. Halaman Masjid Darussalam yang hanya berukuran sekitar 7 meter x 5 meter itu tak cukup menampung semua warga dari berbagi daerah yang datang.

Waktu menunjukan pukul 15.15 WIB. Aroma rempah-rempah mulai tercium dari tempat pembuatan bubur Banjar Samin yang memiliki tinggi 90 sentimeter dan lebar 80 sentimeter tersebut. Aroma khas rempah-rempah mulai tercium dari bubur yang sudah puluhan tahun dibagikan secara gratis di Masjid Darussalam tersebut.

Sebelum Salat Asar, puluhan warga sudah memadati tempat memasak di depan masjid. Mereka menunggu bubur tersebut.

Para pengunjung membawa tempat makan. Seorang warga Mojosongo, Jebres, Solo, Endah, 34, mengatakan rela datang jauh-jauh dari Mojosongo menuju Jayengan, Serengan, untuk menikmati bubur tersebut.

Menurut Endah, rasa gurih bubur tersebut lain dari bubur lain. Ada rasa bumbu sayur seperti sup. “Bubur ini dibagikan hanya saat Ramadan. Awalnya 20017 saya iseng antre disini. Katanya ada pembagian bubur khas Kalimantan, ternyata benar. Pukul 16.00 WIB bubur samin habis. Buburnya khas, kayak ada rempah-rempahnya. Agak padat gimana gitu dengan warna sedikit kuning kecokelatan. Itu rempah semua dan berkhasiat,” ujar dia.

Salah satu pembuat bubur samin, Bandi, mengatakan bubur Banjar Samin awal mulanya hanya dibuat 15 kg pada 1930. Bubur dikonsumsi dan dibagikan kepada warga Banjarmasin yang merantau ke Solo. Selanjutnya pada 1985 sampai sekarang, pengelola masjid membagikan 50 kg bubur Banjar Samin setiap hari selama Ramadan.

“Dananya dari alumni SD Darussalam, Masjid Darussalam, dan jemaah Masjid Darussalam. Semoga kami bisa membagikan terus bubur ini sampai hari kiamat nanti,” ujar dia.

Setiap Ramadan, bubur samin dibagikan gratis. Sekitar 1.100 porsi bubur dibuat dari 50 Kg beras. Pelengkap bubur adalah sayur, minyak samin, daging sapi, dan lainnya.

“Di sini siapa saja boleh datang. Ada juga 200 buah untuk hidangan takjil di masjid. Semua panitia adalah orang keturunan Banjar-Jawa, termasuk yang memasak bubur. Memberikan bubur kepada orang yang berbuka puasa pahalanya sama dengan orang yang berpuasa,” ujar dia.

Bubur khas Kalimantan Selatan tersebut berasal dari warga Kalimantan dan berkeluarga di Solo. Atas prakarsa Anang Syahroni, dibuatlah bubur Banjar Samin pada 1930. “Bubur ini rasanya beda sekali karena kami masak dengan rempah-rempah dan bumbu khas Kalimantan,” jelas dia.