Demi Tradisi, Orang Tua Siapkan Rp1,5 Juta-Rp2 Juta untuk Angpau Anak-Anak

Anak-anak bermain di wahana permainan Solo Grand Mall, Senin (10/6 - 2019). Mengisi libur sekolah, anak/anak mulai membelanjakan uang fitrah. (Nicolous Irawan)
11 Juni 2019 12:00 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Salah satu tradisi Lebaran di Indonesia adalah membagi-bagikan uang untuk anak-anak. Demi tradisi ini, para orang tua harus menyediakan uang ekstra Rp1,5 juta hingga Rp2 juta untuk angpau.

Lembaran uang baru yang dipersiapkan sebelum Lebaran hanya sebentar usianya. Saat Lebaran tiba, lembaran-lembaran itu segera berpindah tangan. Anak-anak dengan suka-cita menerimanya.

Warga Panularan, Laweyan, Solo, Widyawati Safitri, mengaku sebelum Lebaran rela antre untuk mendapatkan uang baru. Ia menukarkan uang senilai Rp1,5 juta dengan pecahan Rp5.000 dan Rp20.000. “Sudah jadi tradisi membagi-bagikan uang baru untuk para keponakan ketika Lebaran. Beberapa keponakan, saya beri uang dengan nominal yang berbeda,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di The Park Mall, Solo Baru, Minggu (2/6/2019).

Bagi keponakan yang usianya kurang dari empat tahun mendapat angpau lebih kecil dibandingkan mereka yang usianya sudah 17 tahun bahkan lebih. “Keponakan saya banyak sekali, apalagi saya hanya pegawai swasta. Kalau saya pribadi untuk keponakan yang masih kecil diberi Rp20.000. Sementara itu, untuk keponakan saya yang sudah SMP diberi Rp35.000. Kalau yang sudah SMA dan kuliah rata rata saya beri Rp50.000 sampai Rp100.000,” kata dia.

Pertimbangan Widyawati memberikan uang dengan nominal berbeda adalah soal kebutuhan. Kebutuhan anak-anak lebih sedikit dibandingkan mereka yang usianya sudah remaja. “Kalau bayi kan belum ngerti uangnya untuk apa. Beda dengan keponakan saya yang sudah SMP, SMA, dan kuliah. Mereka semua tahu dan punya banyak kemauan,” kata dia.

Yang paling beruntung saat Lebaran, menurut Widyawati, adalah anak-anak. Sebaliknya, orang tua justru harus mengeluarkan banyak uang. “Momen Lebaran ini anak-anak pasti senang karena mendapatkan banyak uang. Untuk saya sendiri harus pintar–pintar membagi uang. Apalagi setelah Lebaran anak saya yang kedua masuk SD. Anak saya itu pintar, sebelum Lebaran minta dompet besar untuk menyimpan uang,” kata dia.

Hal lain disampaikan warga Nusukan, Banjarsari, Yuni Saputri. Ia mengatakan momen Lebaran menjadi momen banyak mengeluarkan uang untuk para keponakan. “Banyak sekali kebutuhan yang harus dikeluarkan. Harus beli hantaran untuk kakak saya, harus memberikan THR [angpau] untuk kepokan, dan harus memberikan THR untuk orang tua. Momen Lebaran ini momen silahturahmi dengan keluarga besar. Banyak keluarga saya yang membagikan uang baru kepada anak saya juga,” jelas dia.

Sebelum Lebaran, Yuni menukarkan uang pecahan baru. Dia harus mengantre lama untuk mendapatkan uang-uang itu. “Emang susah ya kalau sudah tradisi ngasih THR pakai uang baru. Tapi, saya terkadang suka tertawa melihat keponakan saya yang dapat uang lama. Mereka kebanyakan menangis karena tidak dapat uang baru.”

Yuni juga membedakan nominal uang yang dibagikan kepada para keponakan. “Saya menukarkan uang baru sebanyak Rp2 juta. Uang yang saya bagi bertingkat, mulai dari Rp10.000 hingga Rp150.000. Kalau yang sudah kuliah memang saya berikan lebih besar dari keponakan saya yang lain,” jelas dia.