Investor Merugi, Taman Pelangi di TSTJ Solo Akhirnya Tutup

Taman Lampion dan Taman Pelangi di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Solo. (Solopos/Nicolous Irawan)
11 Juni 2019 05:30 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Wahana wisata Taman Pelangi di Kompleks Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo berhenti beroperasi. PT Cikal Bintang Bangsa selaku investor mengundurkan diri dari kerja sama bagi hasil yang dilakukan sejak akhir 2017 itu. Penghentian masa kontrak dilakukan awal tahun ini. Direktur Perusahaan Daerah (PD) TSTJ, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, mengatakan perusahaan yang mengelola Solo Zoo pada malam hari itu mundur akibat merugi.

Taman Pelangi sebenarnya sudah berhenti beroperasi sejak Februari. Setelah evaluasi ternyata kurang menguntungkan. Tapi tinggalan mereka untuk kami, cukup banyak. Jembatan menuju danau, toilet, gudang, cukup banyak ya. TSTJ enggak rugi selama mereka mengelola satu tahun itu. ‘Kan bagi hasil,” kata dia, kepada wartawan, Minggu (9/6/2019).

Bimo mengatakan keuntungan PT Cikal Bintang Bangsa selama mengelola Taman Pelangi telah dibagihasilkan kepada TSTJ selama medio Desember 2017 - Januari 2019. Sedianya kontrak kerja sama senilai Rp10an miliar itu berlaku selama empat tahun. “Salah satu alasan penghentian kerja sama, adalah wahana ini ramai saat awal buka dan sepi di akhir-akhir,” ucapnya.

Apabila dihitung, keuntungan bagi hasil yang didapatkan TSTJ selama Taman Pelangi beroperasi sekitar Rp600an juta. Sementara pajak daerah untuk Pemerintah Kota (Pemkot) Solo sekitar Rp300-an juta dan nilai aset bangunan yang ditinggalkan mencapai Rp750 juta. “Hitungan bisnis dia [investor] kalau diteruskan akan merugi. Ya, kami memahami,” ungkap Bimo.

Sebagai informasi, Taman Pelangi Jurug resmi dibuka untuk umum akhir Desember 2017. Wahana tersebut menyajikan lampu warna-warni yang dirangkai dan dibentuk menjadi beragam kreasi menarik, salah satunya hewan-hewan. Selain itu, ada pula air mancur menari yang disorot lampu. Direktur PT Cikal Bintang Bangsa, Agung Riyadi, mengatakan alasan utama penghentian kerjasama tersebut adalah tak berimbangnya pengeluaran dengan pemasukan.

Wahana tersebut menggunakan daya listrik sebesar 180.000 watt. Di mana 80.000 watt di antaranya khusus digunakan untuk air mancur menari. Sementara, tiket masuk dipatok Rp20.000 per orang untuk Senin-Jumat dan Rp25.000 pada hari libur dan akhir pekan. “Kami bahkan pernah dalam satu hari tidak mendapatkan pengunjung sama sekali. Tapi saat itu memang sedang hujan,” kata dia, dihubungi Solopos.com, Senin (10/6/2019).

Agung mengaku penghentian kerjasama dilakukan setelah melalui berbagai tahapan. Pada Februari 2018 lalu, pihaknya bahkan sempat mewacanakan perpanjangan kontrak sampai 20 tahun. “Saat itu kami menghitung jumlah pengunjung per hari sampai 700an orang pada hari biasa dan dua kali lipatnya di hari libur. Tapi semakin ke sini, jumlah pengunjung terus menurun hingga 70-80 persen,” ucapnya.

Pantauan Solopos.com, sisa-sisa lampion Taman Pelangi Jurug hampir tidak tampak pada Minggu, yang menyisakan sejumlah bangunan permanen seperti jembatan danau dan gudang.