13 Tahun, 85 Penderita HIV/AIDS di Boyolali Meninggal

Ilustrasi HIV - AIDS. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
12 Juni 2019 22:00 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Jumlah penderita HIV/AIDS di Boyolali sejak 2005-2018 atau selama 13 tahun mencapai 480 orang. Sebanyak 85 orang di antaranya meninggal dunia.

Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Boyolali, pada 2018 saja ditemukan 67 penderita HIV/AIDS. Sementara itu, dari 480 penderita HIV/AIDS tersebut, 80 di antaranya berasal dari luar Boyolali yang memeriksakan diri di Kota Susu.

Sekretaris KPA Boyolali Titiek Sumartini mengatakan angka HIV/AIDS di Boyolali ini termasuk tinggi dan peningkatannya dari tahun ke tahun cukup signifikan sehingga diperlukan penanggulangan yang lebih serius.

“Kasus HIV/AIDS di Boyolali kali pertama ditemukan 2005. Kemudian dari tahun ke tahun terus ditemukan dan angkanya signifikan. Jumlah kumulatif sejak 2005-2018 ada 480 orang, 85 di antaranya meninggal dunia,” ujarnya saat bebincang dengan wartawan di Gedung DPRD Boyolali, Selasa (11/6/2019).

Selain itu, dalam kasus HIV/AIDS biasanya angka yang tampak tersebut hanya 40% dari jumlah kasus sesungguhnya. “Dengan kata lain, 480 penderita ini baru 40%. Sedangkan 60% lainnya belum ditemukan. Sehingga kami masih punya PR untuk mengungkap 60% lainnya,” imbuhnya.

Dia mengakui selama ini penaggulangan HIV/AIDS di Boyolali terkendala anggaran dan regulasi sehingga kurang maksimal. Karenanya, saat ini sedang diusulkan pembentukan peraturan daerah (perda).

Diharapkan, dengan perda ini pencegahan HIV/AIDS bisa lebih leluasa dan memaksa karena perda juga mengandung sanksi. “Selama ini kan penanggulangan HIV/AIDS hanya dengan perbup [peraturan bupati] yang tidak mengandung sanksi. Dengan perda, nanti akan ada sanksi bagi siapa saja yang melanggarnya. Misalnya, bagi ibu hamil harus mau memeriksakan diri. Jika tidak, bisa diberi sanksi,” imbuh Titiek.

TBC

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali Ratri S Survivalina mengatakan saat ini penanganan HIV/AIDS dilakukan terpadu dengan TBC.

“Banyak kasus para pendetita TBC juga ternyata menderita HIV/AIDS. Pada penderita HIV/AIDS yang daya tahan tubuhnya lemah, jika menderita TBC mereka tidak akan sembuh. Makanya sekarang harus dikenali dua-duanya, kalau ditemukan penderia TBC, dia harus dicek kena HIV/AIDS atau tidak. Kalau kena dua duanya ya harus diobati dua duanya.