Pepesan Kosong Investasi Rangrang Sragen, Ini Pengakuan Eks Orang Dalam PT MSB

Gudang CV Mitra Sukses Bersama (MSB) di Dusun Kroyo, Desa Taraman, Sidoharjo, Sragen, yang sudah ditutup sejak pertengahan Mei lalu. Foto diambil Rabu (12/6 - 2019). (Solopos/M Khodiq Duhri)
13 Juni 2019 18:00 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Dulu menjadi koordinator yang mengajak ratusan petani semut rangrang untuk bergabung sebagai investor PT Mitra Sukses Bersama (MSB) Sragen, Subandi, 40, kini menjadi salah satu korban. Warga Sragen yang kakaknya juga berinvestasi di PT MSB itu telanjur menghabiskan ratusan juta rupiah dalam investasi semut rangrang.

Kini semuanya terancam lenyap karena tidak jelasnya kelanjutan bisnis itu. Nasib Subandi tergolong lebih memprihatinkan daripada yang lainnya. Pria yang bekerja sebagai sopir antarkota di Kalimantan itu telah berinvestasi sebesar Rp375 juta yang diwujudkan dalam bentuk 250 paket semut rangrang.

Sebagai orang yang pernah menjabat sebagai koordinator mitra di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Subandi, paham betul bagaimana seluk beluk bisnis investasi rangrang tersebut.

“Ratusan petani dari Karanganyar, Ngawi, Jombang, Grobogan dan lain-lain sudah saya ajak bergabung dengan CV MSB. Alhamdulillah mereka sudah bisa merasakan panen. Saya lalu memutuskan keluar dari CV MSB pada tahun lalu. Alasannya, saya takut terbebani masalah mereka. Sebab, kalau ada apa-apa, mereka larinya ke saya. Sampai sekarang pun, saya masih mendapat telepon dari para petani yang pernah menjadi mitra saya itu,” ujar Subandi saat ditemui di rumahnya.

Setelah memutuskan keluar dari CV MSB, Subandi memilih merantau ke Kalimantan untuk bekerja sebagai sopir. Namun, tanpa sepengetahuannya, istri Subandi, Sugianti, 38, tergiur untuk berinvestasi kembali senilai Rp375 juta tersebut.

Sebagian dari semut rangrang itu diternak sendiri di lantai dua rumahnya. Sebagian dari rangrang itu diternak di rumah kakaknya. Beternak rangrang ini tergolong mudah. Para mitra CV MSB cukup memberi makan semut rangrang itu dengan gula pasir.

Kemudahan dalam berinvestasi dengan janji laba besar itu yang membuat CV MSB banyak dilirik warga yang ingin menanamkan modalnya. Namun, tanpa alasan yang jelas, CV MSB menutup kantor berikut gudangnya secara sepihak pada pertengahan Mei lalu. Nahas bagi Subandi, CV MSB sudah tutup meski modal yang ia tanamkan baru jalan dua bulan.

“Saya sudah coba datangi Pak Sugiyono selaku penanggung jawab CV MSB. Saya minta uang saya kembali 100%, tapi tidak bisa. Katanya, masa panen saya diperpanjang tiga bulan. Jadi, saya baru bisa panen dalam waktu delapan bulan. Perkiraan bulan September saya bisa mengambil kembali modal sekaligus labanya,” jelas Subandi.

Diakui Subandi, tutupnya CV MSB membuat puluhan ribu investor yang tersebar di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur meradang. Jika dikalkulasi, total investasi yang dikelola CV MSB bisa menyentuh ratusan miliar rupiah.

Sebagian investor mendadak sakit setelah mengetahui kantor dan gudang CV MSB yang berpusat di Sragen itu tutup. Bahkan di Karanganyar ada investor yang memilih mengakhiri hidupnya karena frustasi setelah investasi yang ia tanam tidak membuahkan hasil.

“Sampai saat ini belum ada yang lapor polisi karena masih berharap uang mereka bisa kembali,” paparnya.

Kepada calon investor, CV MSB berdalih hasil peternakan semut rangrang itu bakal dijadikan bahan pembuatan kosmetik di luar negeri. Namun, Subandi menyadari hal itu adalah pepesan kosong yang digunakan CV MSB untuk meyakinkan calon investor.

“Pada awalnya, gudang itu tertutup untuk semua mitra. Tapi, saya pernah masuk ke gudang. Di sana, semut rangrang yang dibeli dari mitra itu dimusnahkan dengan cara disemprot cairan kimia. Setelah itu, toples itu dicuci bersih lalu diisi lagi oleh bibit baru yang didatangkan dari Jogja. Jadi, tujuan beternak rangrang itu untuk apa ya tidak jelas. Bukan untuk bahan kosmetik, bukan pula untuk diambil krotonya,” tegas Subandi.