Bakal Diboyong Pekan Depan, Pedagang Pasar Pengging Boyolali Keberatan

Pedagang Pasar Pengging, Desa Dukuh, Banyudono, mendegarkan penjelasan salah satu perwakilan pedagang dalam acara sosialisasi penempatan toko, kios, dan los di pasar baru kawasan cagar budaya Pipo di desa yang sama, Rabu (12/6/2019). (Solopos - Akhmad Ludiyanto)
13 Juni 2019 08:00 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali berencana menggelar boyongan pedagang di Pasar Pengging di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Boyolali ke lokasi pasar baru, pada Kamis (20/6/2019) pekan depan.

Pedagang merasa jadwal boyongan tersebut terlalu cepat dan mepet sehingga merekapun keberatan.

Rencana boyongan itu disampaikan dalam sosialisasi penempatan toko, kios, dan los kepada pedagang yang diselenggarakan Pemkab Boyolali di lokasi pasar baru, di kawasan cagar budaya Pipo Desa Dukuh, Rabu (12/6/2019).

Sejumlah pedagang mengatakan selang waktu antara informasi pemindahan dengan jadwal boyongan yang hanya sepekan sangat memberatkan.

Untuk boyongan, mereka harus mempersiapkan banyak hal agar mereka benar-benar siap menempati lokasi baru.  “Yang jelas kami harus membuat rak-rak baru yang harus disesuaikan dengan kios baru. Untuk melakukan itu kami harus menggunakan jasa tukang. Padahal, jasa tukang tidak bisa dipastikan kesediaannya sesaat, bisa jadi mereka siap pekan depan, atau bahkan bulan depan,” ujar Bambang Budi Setiawan, 35, salah satu pedagang pakaian.

Pedagang lainnya, Mulyoto, 52, mengatakan hal senada dengan Bambang. Menurutnya, dia harus mempersiapkan ongkos angkut untuk memboyong semua perlengkapan usahanya ke lokasi baru.

“Pindah kan butuh ongkos. Harus kami persiapkan. Belum lagi kursi-meja yang juga harus kami sesuaikan, kan butuh tukang juga,” ujar pedagang soto ini.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Pengging, Yudha Prangkasa, menambahkan selain waktu yang mepet, dia menilai pasar harus dipersiapkan lebih matang, khususnya soal keamanan.

“Sekarang kita ketahui bersama pagar keliling juga belum ada. Bahkan pintu utama baru akan dibangun tahun depan. Kalau pun ada petugas keamanan, apakah mereka mampu menjangkau semua area pasar. Apalagi malam hari di kawasan ini [pasar baru] sepi,” ujarnya.

Parkir dan PKL

Masalah lain yang dinilainya belum tuntas adalah penataan parkir dan pedagang kaki lima (PKL). Sedangkan yang disepakati saat ini adalah tidak ada PKL di sekitar pasar.

“Khawatirnya, pengelola parkir menumbuhkan PKL. Harapan sayam, terlebih dahulu dibuat regulasi bersama masalah parkir ini yang ditandatangani bersama perwakilan pedagang, UPT, Polsek dan Koramil, sehingga kalau ada PKL bisa ditertibkan sesuai regulasi itu,” tegasnya.

Kepala UPT Pasar Simo yang juga membawahi Pasar Pengging, Suroto, mengatakan rencana boyongan pedagang tersebut berkaitan dengan segera dibongkarnya pasar lama.

“Sesuai rencana, pasar lama dibongkar tahun ini dan segera dilakukan. Sebelum pembongkaran pasar lama dilakukan, pedagang harus pindah dulu ke pasar baru pada 20 Juni,” ujarnya saat diwawancara Espos di sela acara.

Disinggung mengenai keberatan pedagang atas jadwal boyogan itu, dia akan berembuk lagi dengan pedagang dan pihak terkait yang akan melakukan pembongkaran pasar.

Pintu Bambu

“Tentu kami juga akan memberikan toleransi kepada pedagang karena kami memahami bahwa mereka juga butuh persiapan. Yang penting mereka bersedia pindah sebelum sana [pasar lama] dibongkar. Atau nanti boyongan simbolis dulu tanggal 20 itu, selebihnya menyesuaikan,” ujarnya.

Mengenai faktor keamanan, khususnya pintu gerbang, pihaknya akan membuat pintu sementara. Namun untuk pemagaran dan penataan parkir serta PKL semuanya diserahkan kepada pihak dinas (Dinas Perdagangan dan Perindustrian) yang menangani hal itu.

“Namanya pembangunan pasar tentu tidak sekali jadi, bertahap. Untuk pintu utama nanti bisa dibuat dari bambu-bambu atau lainnya. Tapi untuk personel pengamanan sudah disiapkan. PKL dan parkir nanti kami serahkan juga kepada dinas,” imbuhnya.

Untuk diketahui, Pasar Pengging lama akan ditata menjadi kawasan wisata, mirip dengan alun-alun.