Investor Semut Rangrang Sragen Tersebar di DIY-Jombang, Belum Lapor Polisi

Mobil boks dan puluhan ribu stoples kosong tersimpan di Gudang CV Mitra Sukses Bersama (MSB) di Dusun Kroyo, Desa Taraman, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Kamis (13/6 - 2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
14 Juni 2019 06:30 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Investasi semut rangrang melalui CV Mitra Sejahtera Bersama (MSB) di Sidoharjo, Sragen, melibatkan mitra atau investor dari berbagai daerah di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur dengan nilai miliaran rupiah. Namun, hingga kini belum ada satu pun dari mereka yang melapor ke polisi.

Kantor dan Gudang CV MSB sudah beroperasi di Pungkruk, Desa/Kecamatan Sidoharjo, Sragen, sejak 2014 lalu. Di Dusun Kroyo, hampir 60% atau sekitar 200 warganya sudah menjadi mitra CV MSB. 

Subandi, 40, orang yang pernah menjabat sebagai koordinator mitra di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, paham betul bagaimana seluk beluk bisnis investasi rangrang tersebut. Dia mengaku pernah mengajak ratusan petani dari berbagai kabupaten bergabung dengan CV MSB.

“Ratusan petani dari Karanganyar, Ngawi, Jombang, Grobogan dan lain-lain sudah saya ajak bergabung dengan CV MSB. Alhamdulillah mereka sudah bisa merasakan panen. Saya lalu memutuskan keluar dari CV MSB pada tahun lalu. Alasannya, saya takut terbebani masalah mereka. Sebab, kalau ada apa-apa, mereka larinya ke saya. Sampai sekarang pun, saya masih mendapat telepon dari para petani yang pernah menjadi mitra saya itu,” ujar Subandi kepada Solopos.com di rumahnya, Pungkruk, Sidoharjo, Sragen, Rabu (12/6/2019).

Setelah memutuskan keluar dari CV MSB, Subandi memilih merantau ke Kalimantan untuk bekerja sebagai sopir. Namun, tanpa sepengetahuan dia, istri Subandi, Sugianti, 38, tergiur untuk berinvestasi kembali senilai Rp375 juta tersebut.

Sebagian dari semut rangrang itu diternak sendiri di lantai dua rumahnya. Sebagian dari rangrang itu diternak di rumah kakaknya. Beternak rangrang ini tergolong mudah. Para mitra CV MSB cukup memberi makan semut rangrang itu dengan gula pasir.

Kemudahan dalam berinvestasi dengan janji laba besar itu yang membuat CV MSB banyak dilirik warga yang ingin menanamkan modalnya. Namun, tanpa alasan yang jelas, CV MSB menutup kantor berikut gudangnya secara sepihak pada pertengahan Mei lalu. Nahas bagi Subandi, CV MSB sudah tutup meski modal yang ia tanamkan baru jalan dua bulan.

“Saya sudah coba datangi Pak Sugiyono selaku penanggung jawab CV MSB. Saya minta uang saya kembali 100%, tapi tidak bisa. Katanya, masa panen saya diperpanjang tiga bulan. Jadi, saya baru bisa panen dalam waktu delapan bulan. Perkiraan bulan September saya bisa mengambil kembali modal sekaligus labanya,” jelas Subandi.

Diakui Subandi, tutupnya CV MSB membuat puluhan ribu investor yang tersebar di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur meradang. Jika dikalkulasi, total investasi yang dikelola CV MSB bisa menyentuh ratusan miliar rupiah.

Sebagian investor mendadak sakit setelah mengetahui kantor dan gudang CV MSB yang berpusat di Sragen itu tutup. Bahkan di Karanganyar ada investor yang memilih mengakhiri hidupnya karena frustasi setelah investasi yang ia tanam tidak membuahkan hasil.

“Sampai saat ini belum ada yang lapor polisi karena masih berharap uang mereka bisa kembali,” paparnya.

Sementara itu, Sugiyono selalu penanggung jawab CV MSB belum bisa dimintai keterangan terkait tutupnya perusahaan yang dikelolanya. Yang bersangkutan tidak mengangkat telepon dari Solopos.com. Pesan pendek yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp (WA) juga tidak terbalas.

Belakangan, beredar broadcast via pesan suara Whats App (WA) berisi pernyataan pemilik CV Mitra Sejahtera Bersama (MSB), Sugiyono, yang ditujukan kepada semua mitra kerjanya, Kamis (13/6/2019). Kepada Solopos.com, sejumlah mitra sudah membenarkan bahwa itu adalah suara dari Sugiyono.

Dalam pesan suara itu, Sugiyono menganggap pemberitaan miring seputar investasi semut rangrang tersebut terjadi karena ada pihak yang tidak senang lantaran pernah dikecewakan CV MSB. Dia juga membantah bila semua semut rangrang hasil panen dimusnahkan dengan cairan kimia.