Air Waduk Cengklik Boyolali Menyusut, Begini Curhat Petani

Warga menggiring bebek di kawasan Waduk Cengklik, Ngemplak, Boyolali. (Solopos/Dok.)
15 Juni 2019 21:30 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Volume Waduk Cengklik di Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, menyusut drastis akibat musim kemarau. Kini waduk seluas 300 hektare itu hanya menyisakan 5 juta meter kubik (m3) air.

Kondisi itu mengakibatkan petani daerah irigasi (DI) Waduk Cengklik yang tersebar di 12 desa di Ngemplak waswas kehabisan cadangan air. Apalagi, musim tanam kedua (MT II) baru dimulai awal Mei lalu.

Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Tri Mandiri Waduk Cengklik, Samidi, kepada solopos.com, Jumat (14/6/2019), mengatakan dari 5 juta m3 air yang tersisa di Waduk Cengklik, 2 juta m3 di antaranya harus disimpan sebagai cadangan bendung.

“Jadi kini yang bisa dialirkan hanya 3 juta m3,” ujar dia.

Jumlah tersebut termasuk memenuhi saluran irigasi Cengklik sayap kiri dari 0 km waduk hingga Embung Giriroto sejauh 20 km. Sementara kebutuhan untuk saluran sayap kanan relatif lebih sedikit karena hanya mengairi desa-desa sekitar waduk atau sepanjang kira-kira 8km.

Untuk memenuhi kebutuhan air hingga ke desa terjauh di Giriroto, Samidi mengalirkan air dengan debit 750m3/detik menuju saluran sekunder Cengklik kiri dan 200m3/detik menuju saluran sekunder sayap kanan.

Dengan luncuran debit yang konsisten, maka jika satu hari mengalirkan cadangan air dalam waktu setengah jam air akan habis sebanyak 1,7 juta m3. Dengan demikian, tak sampai satu pekan air waduk diperkirakan tidak dapat mengalir ke area pertanian.

Samidi menambahkan saat ini satu-satunya jalan untuk meningkatkan volume air waduk adalah dengan menunggu datangnya air hujan.

“Masalah pendangkalan (sedimentasi) masih menjadi penyebab utama sehingga volume tidak bisa maksimal, padahal idealnya, untuk sampai ke Giriroto debit yang diperlukan minimal 12juta m3,” tutur Samidi.

Menindaklanjuti hal ini, dalam waktu dekat GP3A akan mengadakan rapat bersama jajaran Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Jawa Tengah yang menaungi kawasan Waduk Cengklik. 

Terpisah, salah satu petani Ngemplak, Trimo, mengatakan sejauh ini selain air hujan dan air dari waduk, pasokan air didapatkannya dari sumur pantek di beberapa titik. Cara ini membuat Trimo dan sejumlah petani lain harus mengeluarkan uang lebih mahal untuk menyewa diesel dan solar.