Penebangan Pohon Stasiun Balapan Solo Tuai Kritik

Puluhan pohon di lingkungan Stasiun Balapan ditebang, Jumat (14/6 - 2019). Penebangan itu menuai kritikan. (Solopos/Mariyana Ricky P.D)
17 Juni 2019 06:00 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Sejumlah kalangan mengkritik penebangan pohon di lingkungan Stasiun Solo Balapan, Solo, Minggu (16/6/2019). Penebangan diprediksi bakal membuat lingkungan stasiun itu menjadi semakin panas. Koordinator Forum Solo Hijau (FSH), Mayor Haristanto, mengatakan jika penebangan dilakukan maka sebaiknya pihak stasiun menggantinya dengan pohon baru.

“Sekitar setahun lalu, saya mewakili tim pengkaji pohon yang ditunjuk Pemkot [Pemerintah Kota] Solo bertemu perwakilan PT KAI. Intinya PT KAI meminta izin untuk menebang pohon di lahan yang akan menjadi kantong parkir. Kami kemudian berdiskusi dan hasilnya setiap menebang satu pohon, akan diganti dengan 10 pohon baru. Apakah sekarang sudah ada gantinya, kok sudah ditebang,” kata dia, kepada Solopos.com, Minggu.

Mayor menyayangkan langkah tersebut lantaran Kota Solo saat ini krisis pohon. Jumlah ruang terbuka hijau (RTH) tak sebanding dengan luasan wilayah. Ia meminta PT KAI lebih bijak dengan menyiasati pembangunan lahan parkir tanpa menebang pohon.

“Ya, karena sudah terlanjur ditebang saya harap ada kompensasi penggantian pohon meski lahan itu adalah lahan milik PT KAI, bukan umum. Setelah saya hitung, pohon yang ditebang ada 25 dengan diameter bawah 25-40 sentimeter,” ucap Mayor. Hal senada disampaikan salah seorang anggota komunitas pramekers (pengguna Kereta Api Prameks), Titin.

“Saya lihat Jumat (14/6/2019) kemarin mulai ditebangi. Saya enggak ada informasi jelasnya mau dibikin apa. Dengar-dengar untuk kantong parkir baru. Kelihatan lebih terang saja. Tapi untuk pejalan kaki terasa sangat panas saat berjalan memasuki stasiun. Tidak ada peneduh,” kata dia. Ia meminta PT KAI tak menghabiskan seluruh pohon, namun menyisakan sebagian untuk peneduh.

Dikonfirmasi, Kepala Stasiun Solo Balapan, Suharyanto, mengatakan penebangan dilakukan untuk memperluas kantong parkir. Selama ini, kapasitas kantong parkir tak sebanding dengan jumlah kendaraan yang singgah di stasiun. Lahar parkir hanya mampu memuat 500an sepeda motor, padahal kendaraan yang setiap hari dititipkan hampir enam kali lipatnya.

“Kalau mobil kapasitas kantong parkirnya 200an, padahal jumlah mobil bisa di atas 2000 unit per hari. Ini sangat kurang. Kami tidak menebang seluruh pohon. Pohon di bagian depan, di pinggir itu masih kami pertahankan. Ya, kalau panas memang panas. Lahan parkir semuanya panas. Besok kan bangunan yang di dekat pintu masuk itu juga akan dirobohkan untuk perluasan,” kata dia, Minggu.

Hariyanto juga mengatakan selama ini yang menjadi keluhan penumpang di Stasiun Balapan adalah kurangnya kantong parkir. Sehingga perluasan harus dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan. Penebangan tersebut, sambung dia, juga untuk membangun alur parkir mobil.

“Flow [alur] parkiran di Stasiun Balapan saat ini untuk berputar kan harus keluar dari lingkungan stasiun karena enggak bisa dua jalur atau laluan. Sekarang kalau [mobil] kehabisan parkir juga harus keluar dulu baru masuk. Nah, diharapkan penumpang yang bawa mobil itu enggak perlu keluar stasiun lalu masuk lagi, karena bikin macet Jl.Monginsidi,” tutur dia. Ke depan, pihaknya juga berencana membuat kantong pakir sepeda motor bertingkat.

“Kami berharap perubahan ini membuat Stasiun Balapan lebih baik baik, secara pelayanan maupun estetika. Soal pohon yang ditebang, tentu kami akan menanam pohon baru,” ujarnya.