PPDB Solo: Banyak Ortu Langgar Zonasi Sekolah

Ilustrasi PPDB online. (Solopos/Dok)
17 Juni 2019 03:00 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Cukup banyak orangtua yang melakukan pelanggaran pada uji coba pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online SMA/SMK Kota Solo, Kamis (13/6/2019). Mindset orangtua saat ini masih membagi sekolah dengan label favorit dan pinggiran.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 4 Solo, Nanang Inwanto mengaku masih banyak orangtua yang belum paham mengenai zonasi. Ia menjelaskan ada beberapa orangtua siswa yang nekat melanggar zonasi dengan alasan alamat rumahnya dekat dengan sekolah yakni Colomadu, Karanganyar. Petugas membiarkan orangtua yang ngeyel mengisi formulir pendaftaran.

“Saya sudah jelaskan beberapa kali, sistem online akan mengeluarkan sekolah sesuai dengan jarak kelurahan ke sekolah. Beberapa tim kami memberikan penjelasan kepada orangtua siswa terkait zonasi. Dari banyaknya orangtua yang bertanya, bisa disimpulkan mereka belum banyak tahu soal zonasi ini,” kata dia saat ditemui Solopos.com di SMAN 4 Solo, Kamis.

Hapus Label

Ia mengaku sulit menghapus label sekolah favorit di stigma orangtua. Semua sekolah memiliki potensi untuk menjadi sekolah favorit. Sehingga semua sekolah mampu bersaing untuk meraih peringkat atas, baik di bidang akademik maupun non akademik.

“Pada dasarnya semua anak merupakan juara di bidangnya masing-masing. Diharapkan adanya zonasi, sekolah maupun orangtua mampu melihat dan mengembangkan potensi anak di mana pun mereka bersekolah. Sistem zonasi ini juga bertujuan mengurangi jumlah siswa yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah,” ujarnya.

Salah satu orangtua siswa, Zulaika Nur mengaku datang ke sekolah untuk mendaftarkan anak dengan mengisi formulir uji coba pendaftaran. Namun, saat memasukkan data ke sistem online, berkasnya ditolak dengan alasan alamat yang digunakan mendaftar masuk tidak masuk zonasi.

“Anak saya tadi keluar uji coba PPDB bilang tidak bisa mendaftar SMAN 4 Solo. Saya kecewa tidak bisa mendaftar di SMAN 4 Solo. Penerapan zonasi membuat anak tidak bisa leluasa memilih sekolah favorit meskipun nilai tinggi,” kata dia.

Ia mengatakan SMAN 4 Solo masih menjadi pilihan utama calon siswa baru. Namun, para orangtua siswa kecewa karena tidak bisa lagi dengan mudah memasukkan anak mereka ke sekolah yang diinginkan. “Banyak orangtua yang datang sekolah sejak pukul 08.30 WIB untuk mengikuti uji coba PPDB. Tetapi banyak juga orangtua yang kecewa,” ujarnya.

Warga Jebres, Suryanto mengaku mendaftarkan anaknya untuk masuk sekolah favorit dengan modal nilai tinggi yakni 32,41. Namun, modal nilai tinggi sekarang tidak lagi dapat menjadi jaminan masuk sekolah favorit.

“Saya berharap Pemerintah mengevaluasi kebijakan zonasi sekolah karena sangat merugikan siswa yang memiliki nilai tinggi. Bisa saja sekolah favorit isinya anak tidak pintar,” kata dia.