Pengembang Rumah Bersubsidi Soloraya Pilih Lahan di Pinggiran

Ilustrasi rumah bersubsidi. (Bisnis/Paulus Tandi Bone)
17 Juni 2019 17:05 WIB Bayu Jatmiko Adi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pengembangan perumahan di Jawa Tengah, khususnya Soloraya, terkendala keterbatasan lahan. Hal itu memicu naiknya harga rumah setiap tahunnya. Tapi walaupun per Juli 2019 harga rumah bersubsidi kembali naik, target pembangunan perumahan di Soloraya tidak terpengaruh.

Sekretaris Real Estat Indonesia (REI) Soloraya, Oma Nuryanto, mengatakan selama ini hampir setiap tahun harga tanah cenderung naik. 

"Untuk pengembangan rumah subsidi kendalanya memang pada pembebasan lahannya. Dalam arti, kenaikan subsidi dengan harga tanah, tarif tukang serta bahan baku tidak sesuai. Untuk itu kemudian dipilih lahan yang masuk ke dalam [daerah pinggiran]," kata dia kepada solopos.com, Kamis (13/6/2019).

Menurutnya untuk wilayah Soloraya yang masih berpotensi untuk pengembangan perumahan bersubsidi adalah wilayah Boyolali, Karanganyar, dan Sukoharjo, terutama pada daerah pinggir.

Meski ada kenaikan harga, Oma mengatakan hal itu tidak akan memengaruhi target pengembangan rumah di tahun ini. Untuk diketahui pada 2019  ditargetkan ada 6.000 unit rumah dibangun.

"Untuk target tidak berubah, sebab sudah disiapkan sebelumnya," kata Oma Nuryanto.

Sedangkan untuk pasar, dia juga memprediksi tidak akan terpengaruh banyak. Sebab menurutnya peningkatan harga 7%-8% dari tahun lalu itu tidak akan terpaut jauh dari sisi cicilan.

"Pasar tidak masalah. Misalnya dulu angsuran Rp750.000 jadi Rp825.000, jadi tidak terlalu banyak," lanjut dia.

Per Juli 2019 nanti harga rumah bersubsidi naik menjadi Rp140 juta. Oma menyebutkan harga setiap tahun berbeda. Pada 2017 lalu harga sekitar Rp123 juta. Kemudian pada 2018 lalu harga sekitar Rp130 juta.

Salah satu pengembang rumah di Karanganyar, Sapari, mengakui sulitnya mencari lahan untuk pengembangan rumah bersubsidi di Soloraya saat ini.

"Tanah sulit. Solo sudah tidak ada lahan. Kalau Karanganyar masih satu dua lokasi ada. Tapi daerah perbatasan Solo seperti Colomadu sudah sangat tinggi," kata dia.

Sementara itu salah satu warga, Budi Santoso, mengaku tidak mudah untuk mendapatkan rumah yang diinginkannya.

"Inginnya bisa lihat rumahnya yang sudah jadi. Tapi kebanyakan pengembang membangun rumah menunggu uang dulu, jadi barang tidak ready stock. Proses di perbankan tampaknya juga tidak mudah," kata dia kepada solopos.com.

Budi merupakan warga Solo yang berencana membeli rumah di wilayah Gondangrejo, Karanganyar, atau Sawahan, Boyolali. Alasannya biar tetap dekat menuju lokasi kerja di Solo. Sedangkan terkait harga rumah yang kembali naik tahun ini, dia berharap bisa kembali turun.

"Kalau tiap tahun naik, nanti bisa-bisa sama dengan harga nonsubsidi. Kalau saya berharap harga rumah bersubsidi tetap terjangkau dan tidak naik banyak setiap tahunnya," lanjut dia.