Demam Berdarah Renggut 5 Nyawa Warga Sukoharjo

Petugas melakukan pengasapan atau fogging di Dusun Teplok, Desa Mancasan, Kecamatan Baki, Sukoharjo, Senin (17/6/2019). (Solopos - Bony Eko Wicaksono)
18 Juni 2019 16:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merenggut lima nyawa warga Sukoharjo selama semester I 2019. Jumlah kasus DBD melonjak drastis dari 35 kasus selama 2018 menjadi 213 kasus selama semester I 2019.

Kelima penderita penyakit DBD yang meninggal itu dari kalangan anak-anak maupun orang dewasa. Mereka berasal dari wilayah Kecamatan Sukoharjo, Tawangsari, Kartasura dan Grogol.

Para penderita mengalami demam tinggi selama berhari-hari. Mereka lantas dibawa ke puskesmas dan rumah sakit untuk mendapat perawatan medis secara intensif.

Sementara jumlah kasus penyakit DBD meningkat signifikan dibanding tahun lalu. Jumlah kasus penyakit DBD selama 2018 ada 35 kasus. Sedangkan hingga semester I 2019, jumlah kasus DBD 213 kasus.

“Meningkatnya jumlah kasus penyakit DBD dipengaruhi perilaku kesehatan masyarakat. Mereka lupa melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk [PSN] di lingkungan rumah,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, saat berbincang dengan Solopos.com di kantornya, Senin (17/6/2019).

Nyamuk Aedes aegypti berkembang cepat saat musim penghujan. Telur nyamuk yang baru saja menetas menjadi larva dan nyamuk dewasa dapat menularkan virus dengue saat menggigit manusia.

Selain itu, pemetaan daerah rawan endemis penyakit DBD telah dilakukan di 12 kecamatan. Daerah itu dikategorikan endemis demam berdarah karena terdapat kasus DBD selama tiga tahun berturut-turut.

“Kendati ada penderita yang meninggal dunia, belum ada penetapan kejadian luar biasa [KLB] penyakit DBD di Sukoharjo. Mudah-mudahan tak ada lagi warga yang meninggal dunia lantaran menderita penyakit DBD,” ujar Yunia.

Masing-masing puskesmas kebanjiran permintaan pengasapan atau fogging untuk membasmi nyamuk dari masyarakat. Permintaan itu tak bisa dipenuhi lantaran ada standard operating procedure (SOP) fogging. Petugas terlebih dahulu melakukan penyelidikan epidemiologi di lingkungan rumah penderita DBD.

Fogging bisa dilakukan apabila ditemukan penderita DBD lainnya dan jentik-jentik nyamuk di tempat penampungan air. “Ada efek samping fogging atau pengasapan sehingga harus benar-benar memenuhi SOP fogging. Cara paling efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit DBD adalah melaksanakan gerakan PSN.”

Sementara itu, Sekretaris RW 009, Dusun Teplok, Desa Mancasan, Kecamatan Baki, Sriyono, mengatakan ada 11 warga yang harus menjalani rawat inap di rumah sakit lantaran menderita penyakit DBD. Sebagian warga terjangkit DBD sebelum Ramadan.

Ada beberapa warga lain yang mengeluhkan demam dan mual setelah Lebaran. Lantaran banyaknya warga yang menderita DBD, warga setempat sepakat meminta instansi terkait melakukan fogging ke rumah penduduk dan saluran drainase di desa.