Andalkan Aset Kripto, Bos CV MSB Ingin Akhiri Ternak Semut Rangrang

Truk dan puluhan ribu stoples tersimpan di Gudang CV Mitra Sukses Bersama (MSB) yang sudah tidak beroperasi di Dusun Kroyo, Desa Taraman, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Kamis (13/6 - 2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
18 Juni 2019 21:20 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Pendiri CV Mitra Sukses Bersama (MSB) selaku pengelola investasi ternak semut rangrang mengakui uang dari para investornya diputar kembali untuk bisnis cryptocurrency atau trading uang kripto. Sedangkan bisnis ternak semut rangrang itu sendiri, kata dia, harus diakhiri karena pembengkakan biaya.

Hal itu terungkap dalam jumpa pers yang dihadiri pendiri CV MSB, Sugiyono, di Rumah Makan Rosojoyo 2, Nglorog, Sragen, Senin (17/6/2019). Pada kesempatan itu, Sugiyono yang didampingi kuasa hukumnya, Heroe Setiyanto, mengatakan dirinya telah membayar senilai Rp7 triliun kepada para peternak semut rangrang. Uang itu, kata dia, merupakan hasil trading uang kripto.

Sugiyono menjelaskan angka Rp7 triliun itu dihitung berdasarkan jumlah paket dikalikan Rp2,2 juta atau besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli kembali satu paket semut rangrang dari mitra. Pada 2018, dia mengklaim sudah membayar hasil panen semut rangrang senilai lebih dari Rp2 triliun kepada mitra.

Kendati demikian, dia menganggap usaha bisnis ternak rangrang itu harus diakhiri untuk menghindari pembengkakan biaya produksi yang kian meningkat. Problem yang dihadapi CV MSB, menurut Sugiyono, adalah buruknya kualitas panen semut rangrang yang dibudidayakan mitra.

Dia menargetkan hasil budidaya semut rangrang tiap paket bisa menghasilkan 50% semut berkualitas. Akan tetapi, satu paket semut rangrang rata-rata hanya bisa menghasilkan 20% semut berkualitas.

“Hasil panen dari mitra tidak sesuai harapan. Jumlah panen makin jelek saja. Jadi, ada pembengkakan biaya produksi terutama untuk pembelian bibit baru, gaji tenaga, perawatan stoples, operasional kendaraan dan lain-lain. Biaya produksi bisa mencapai Rp3 miliar/pekan. Selaku penanggung jawab kemitraan MSB, saya harus mengambil keputusan yang cepat dan tepat [dengan menutup MSB]. Kalau saya terlambat ambil keputusan, maka masalah akan menimpa kami,” paparnya.

Sugiyono juga mengakui selama lima tahun terakhir, CV MSB belum memiliki produk akhir. CV MSB belum bisa memproduksi kapsul untuk obat kesehatan dari bahan baku semut rangrang tersebut. “Semut yang berkualitas baik itu bisa diolah jadi kapsul yang bagus untuk penyakit kolestrol, penyakit tulang dan lain sebagainya. Tapi kalau bahan baku belum siap, [kapsul] itu belum bisa terwujud,” tegasnya.

Namun Sugiyono optimistis bisa melunasi pembayaran kepada para ribuan mitranya. Caranya, kata dia, adalah dengan menjual aset uang kripto yang dimilikinya.