5.000 Mitra Belum Dibayar, Bos CV MSB akan Jual Aset Bitcoin

Pendiri CV Mitra Sukses Bersama (MSB), Sugiyono (paling kanan), hadir untuk memberikan keterangan kepada wartawan di RM Rosojoyo 2, Nglorog, Sragen, Senin (17/6 - 2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
18 Juni 2019 22:30 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Masih ada ribuan mitra CV Mitra Sejahtera Bersama (MSB) yang belum mendapatkan hasil dari panen ternak semut rangrang. Namun pendiri CV MSB, Sugiyono, mengaku tak cemas karena dirinya masih memiliki aset dalam bentuk uang kripto, yaitu Bitcoin.

Bisnis ternak semut rangrang itu kini telah berakhir. Hingga kini masih terdapat kurang dari 5.000 mitra yang belum mendapat hasil panen dari ternak rangrang. Sugiyono optimistis bisa melunasi pembayaran hasil panen itu sesuai jadwal yang sudah disepakati dengan mitra yakni lima bulan setelah ternak semut rangrang ini dimulai.

Namun, dia enggan membeberkan jumlah uang yang harus dibayarkan kepada kurang dari 5.000 mitra tersebut. Guna melunasi pembayaran kepada mitra, Sugiyono mengaku hanya perlu menjual aset bitcoin yang dikelola melalui bisnis cryptocurrency.

“Jumlah koin ada banyak, tapi yang kami simpan hanya belasan. Kalau ada kenaikan, profit dari satu koin bisa capai miliaran rupiah. Saat usaha ini [bisnis ternak rangrang] berakhir, kalau dibutuhkan ya tinggal diambil saja [profitnya],” ucap Sugiyono dalam jumpa pers di Rumah Makan Rosojoyo 2, Nglorog, Sragen, Senin (17/6/2019).

Sementara itu, Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sragen, Suharti, mengatakan surat izin usaha perdagangan (SIUP) dari CV MSB yang diterbitkan pada 2015 sedianya digunakan untuk kegiatan leveransir atau usaha penyedia bahan-bahan keperluan, bahan makanan, bangunan dan lain sebagainya.

SIUP itu berlaku hingga lima tahun sejak 2015. Kendati demikian, SIUP itu secara otomatis sudah tidak berlaku karena semua izin usaha harus masuk ke sistem online single submission (OSS) per Juli 2018.

“Pembaharuan ke sistem OSS ini hukumnya wajib bagi semua perusahaan. Karena tidak diperbarui ke sistem OSS, secara otomatis SIUP dari CV MSB itu sudah tidak berlaku. Kalau SIUP itu digunakan untuk kegiatan menggalang dana seperti halnya bisnis investasi, itu tidak bisa dibenarkan. Kalau ada penyalahgunaan izin seperti ini, sanksinya ya harus dicabut izinnya,” tegas Suharti.

Diberitakan sebelumnya oleh Solopos, Sugiyono yang didampingi kuasa hukumnya, Heroe Setiyanto, mengatakan dirinya telah membayar senilai Rp7 triliun kepada para peternak semut rangrang. Uang itu, kata dia, merupakan hasil trading uang kripto.

Sugiyono menjelaskan angka Rp7 triliun itu dihitung berdasarkan jumlah paket dikalikan Rp2,2 juta atau besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli kembali satu paket semut rangrang dari mitra. Pada 2018, dia mengklaim sudah membayar hasil panen semut rangrang senilai lebih dari Rp2 triliun kepada mitra.

Kendati demikian, dia menganggap usaha bisnis ternak rangrang itu harus diakhiri untuk menghindari pembengkakan biaya produksi yang kian meningkat. Problem yang dihadapi CV MSB, menurut Sugiyono, adalah buruknya kualitas panen semut rangrang yang dibudidayakan mitra.