Proyek Masjid Taman Sriwedari Solo Kurang Dana, Penyelesaian Molor 3 Bulan

Proyek Masjid Taman Sriwedari Solo (Instagram/skyscrappercitysolo)
19 Juni 2019 14:15 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- PT Wijaya Karya (Wika) memutuskan untuk memperlambat pembangunan Masjid Taman Sriwedari Solo (MTSS). Hal itu menyusul minimnya dana yang terkumpul untuk pembangunan masjid di jantung Kota Solo itu.

Hal ini berefek pada molornya target penyelesaian pembangunan masjid tersebut. Tenggat waktu proyek yang seharusnya rampung Juni 2020 diperpanjang sampai September 2020 atau molor sekitar tiga bulan.

Informasi yang diperoleh Solopos.com, anggaran yang masuk untuk pembangunan masjid itu melambat. Proyek yang dikerjakan melalui sistem pendanaan corporate social responsibility (CSR) itu baru mampu mengumpulkan dana senilai Rp26,5 miliar dari total kebutuhan Rp165 miliar.

Manager Proyek Pembangunan MTSS, Agung Budianto, mengatakan perkembangan pembangunan Masjid Taman Sriwedari saat ini berada di angka 40,07 persen atau senilai Rp70-an miliar. Dengan anggaran yang baru terkumpul itu, pembangunan mengalami defisit sekitar 60 persen.

Jumlah itu belum termasuk material bangunan di lokasi yang sudah siap pasang sekitar Rp10 miliar. “Setelah melalui berbagai pertimbangan, kami harus membuat strategi pembangunan konstruksi agar laju defisit tak semakin besar,” kata dia kepada wartawan di Rumah Dinas Loji Gandrung, Senin (17/6/2019) malam.

Agung menyampaikan seharusnya saat ini PT WIKA sudah memasuki tahap finishing yang menyasar interior seperti pemasangan kayu, marmer, dan batu granit. Jika seluruh material tersebut dipasang, panitia pembangunan MTSS harus membayar senilai perkembangan fisik yang ada.

Padahal, panitia tak memiliki kemampuan bayar yang sepadan dengan pengerjaan. Apabila diteruskan, PT Wika khawatir proyek akan terhenti.

“Kami enggak ingin menyalahkan Pemkot atau menyalahkan panitia. Karena ini proyek CSR, jadi tergantung dana yang masuk sehingga tergantung kemauan dari masyarakat Solo juga,” ucap Agung.

Strategi perlambatan dimulai pada Maret lalu. Pada bulan itu, perkembangan pembangunan berada di angka normal sekira 7,4 persen. Bulan berikutnya, April, perkembangan pembangunan turun di enam persen kemudian menjadi lima persen pada Mei.

“Puncaknya pada Juni ini kami hanya mampu mengerjakan pembangunan sekitar dua persen. Kami enggak sebut ini perlambatan ya, tapi strategi agar pembangunan tetap berlanjut tapi defisit anggarannya tidak makin besar,” jelasnya.

Akhir Juni ini, PT Wika berupaya merampungkan pemasangan baja atap, pemasangan atap sirap di gedung pengelola dan guest house, serta menyelesaikan struktur empat menara penunjang yang tingginya 30 meter.

“Kalau di menara utama kami sedang pabrikasi tangga putar baja dan separator beam untuk pemasangan lift-nya.”

Ketua Panitia Pembangunan MTSS, Achmad Purnomo, optimistis anggaran proyek bisa terkumpul sesuai kebutuhan. “Tidak ada ceritanya mbangun [membangun] masjid itu tidak selesai. Pasti selesai. Saat ini kami tinggal merealisasikan komitmen-komitmen berbagai pihak, yang sudah setuju memberikan donasi. Kami juga berharap masyarakat ikut menyumbang agar pembangunan masjid selesai sesuai target,” kata Wakil Wali Kota Solo itu.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Solo, Endah Sitaresmi Suryandari, yang juga panitia pembangunan, menyebut aparatur sipil negara (ASN) Solo sudah mengumpulkan dana untuk ikut menyumbang pembangunan.

“Kami pernah berjanji Ramadan tahun depan, masjid sudah bisa digunakan, tapi sepertinya janji tersebut tidak bisa direalisasikan, kecuali ada sumbangan dana yang tiba-tiba datang,” ucap Sita, sapaan akrabnya.