Perlintasan KA Bawah Flyover Manahan Solo akan Ditutup Permanen

Perlintasan sebidang kereta api di bawah Flyover Manahan Solo ditutup dengan pagar besi dan timbunan material. Foto diambil Selasa (18/6 - 2019). (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
19 Juni 2019 17:05 WIB Ichsan Kholif Rahman Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Sejumlah warga nekat menyeberangi rel kereta api (KA) di bawah Flyover Manahan Solo. Padahal sejak Flyover Manahan berfungsi akhir tahun lalu, kawasan itu tidak lagi digunakan sebagai jalur perlintasan. Akses ke lokasi sudah ditutup dengan barikade dan palang pembatas.

Berdasarkan pantauan solopos.com di perlintasan sebidang Flyover Manahan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Selasa (18/6/2019), di sebelah selatan perlintasan telah terpasang palang pembatas berwarna kuning dan hitam.

Di sebelah utara perlintasan, juga telah terpasang beberapa barikade yang menutup akses pejalan kaki atau pengendara sepeda melintas.

Tepat di samping-samping perlintasan, bongkahan sisa-sisa material berupa tanah dan aspal tertata memanjang. Ketinggian yang mencapai 50 sentimeter (cm) membuat pengendara sepeda yang hendak menyeberang rel mengurungkan niatnya.

Meskipun sudah ditutup, masih ada pejalan kaki berani menyeberang. Juga ada pengendara sepeda mengangkat sepedanya menyeberang dikawasan itu.

Salah seorang warga Kabupaten Sukoharjo yang berada di sekitar lokasi, Slamet Raharja, saat ditemui solopos.com, mengatakan beberapa warga masih nekat menyeberang di perlintasan sebidang itu meskipun sudah ditutup.

Pesepeda juga masih nekat menyeberang dikarenakan larangan melintas di Flyover Manahan Solo bagi kendaraan tidak bermesin. "Apabila memutar hingga Perlintasan Pasar Nongko cukup jauh," ungkap dia.

Salah seorang penjaga perlintasan sebidang Flyover Manahan, Tony Himawan, mengatakan selain warga yang nekat menyeberang, beberapa warga juga sering berswafoto berlatar belakang mural di kawasan itu. Mereka tidak memperhatikan kereta api yang melintas, sehingga ia harus memberikan peringatan.

Manajer Humas PT KAI Daops VI, Eko Budiyanto, mengatakan belum mengetahui barikade dan sisa-sisa material yang menutup perlintasan sebidang itu. Menurutnya, memang seharusnya perlintasan sebidang itu ditutup sesuai undang-udang yang mengatur.

“Kementerian Perhubungan melalui Dirjen Perkeretapian akan menutup secara prioritas perlintasan sebidang yang sudah ada flyover atau underpass. Sehingga, dengan penutupan itu flyover akan menjadi lebih optimal,” ujarnya.

Menurutnya, penutupan menggunakan sisa-sisa material itu masih sementara. Sudah ada rencana penutupan secara permanen menggunakan peralatan yang lebih memadai. Penutupan secara permanen tidak akan bisa digunakan warga menyeberang.

Eko Budiyanto menambahkan begitu pula dengan perlintasan sebidang tanpa palang pintu harus ditutup. Perlintasan sebidang berjarak kurang dari 800 meter antarperlintasan harus ditutup. Hal itu telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.