15 Penghuni Rusunawa Solo Nunggak Sewa Hingga Bertahun-Tahun

Petugas dari Pemkot Solo menyegel salah satu unit Rusunawa Putri Cempo Mojosongo, Solo, Selasa (19/3/2019). (Solopos - M. Ferri Setiawan)
23 Juni 2019 22:40 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Puluhan penghuni rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Kota Solo menunggak biaya sewa hingga bertahun-tahun. Sebanyak 15 penghuni di antaranya bahkan tidak membayar sewa sejak 2016.

Kepala UPT Rumah Sewa Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperum KPP) Kota Solo, Iswan Fitradias Pengasuh, mengatakan belasan penghuni rusunawa itu diberi waktu maksimal tiga bulan ke depan untuk melunasi tunggakan.

Apabila tidak dilunasi, Pemkot akan menyita kunci dan mengalihkannya kepada calon penghuni lain yang lebih berhak. “Mereka akan kami panggil satu per satu ke kantor untuk memberikan penjelasan. Kenapa bisa sampai menunggak, padahal sewa per bulan paling mahal Rp100.000. Kalau dibagi 30 hari per hari paling mahal Rp3.000-an. Sebelumnya yang menunggak sampai tiga tahun itu 20 penghuni. Lima di antaranya kooperatif melunasi tagihan,” kata dia kepada wartawan, belum lama ini.

Akibat pembayaran sewa yang menunggak itu, sambung Iswan, target pemasukan ke pendapatan asli daerah (PAD) sulit terpenuhi. Kendati jumlah unit rusunawa bertambah, pendapatannya tak pernah bisa mencapai target tahunan senilai Rp1 miliar.

“Padahal sewa tersebut sebagian juga kami manfaatkan untuk perawatan dan renovasi rusunawa. Biaya rehab tiap rusunawa bisa sampai Rp150 juta. Tahun ini, rehab kami fokuskan untuk Rusunawa Kerkov,” papar Iswan.

Pekan ini, Pemkot membagikan tiga unit rusunawa full mebeler bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Tiga unit itu yakni, Rusunawa Putri Cempo blok C dan D serta Rusunawa Mangkubumen.

Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, meminta warga memanfaatkan mebeler tersebut sesuai fungsinya. Ia melarang warga memindahtangankan maupun menjualnya karena tercatat sebagai aset negara yang izin pemakaiannya menjadi satu dengan izin penempatan.

“Furnitur pelengkap di rusunawa harus dirawat, tidak boleh dipindahtangankan apalagi dijual. Ada stiker khusus yang menandai furnitur itu adalah inventaris negara sehingga suka atau tidak suka, siapa pun yang tinggal di rusunawa harus menggunakan dan merawatnya,” kata Rudy, sapaan akrabnya, Rabu malam.