Penataan Koridor Jensud Solo Tak Kunjung Usai Bikin Netizen Jengkel

Foto terbaru koridor Jl Jensud Solo setelah dicat ulang (Solopos/Burhan Aris)
24 Juni 2019 19:40 WIB Chelin Indra Sushmita Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Proyek penataan koridor Jl. Jenderal Sudirman (Jensud) Solo yang tak kunjung selesai dikeluhkan banyak pihak. Bukan hanya pengguna jalan, proyek yang berjalan lambat tersebut juga mengganggu agenda Kota Solo, Jawa Tengah.

Salah satu penikmat pertunjukan seni di Kota Solo, M. Adi, mengeluhkan sulitnya akses jalan menuju Benteng Vastenburg. Dia bahkan sampai harus mengantre panjang untuk masuk lokasi parkir saat hendak menonton opera Ramayana di Benteng Vastenburg dalam agenda Bakdan Neng Sala 2019.

Proyek penataan koridor Jalan Jensud Solo sebenarnya telah lama menjadi keluhan banyak pihak, termasuk netizen. Berbagai keluhan netizen tentang proyek tersebut membanjir di kolom komentar fanpage Solopos.com, Senin (24/6/2019).

Sejumlah netizen Solo heran dengan proyek penataan koridor Jl. Jensud yang menggantikan aspal dengan batu andesit. Padahal, menurut mereka batu andesit yang sudah dipasang di depan Balai Kota Solo sama sekali tidak nyaman untuk dilewati kendaraan.

Jalan bagus kok mau diganti batu. Mending diaspal halus lagi saja. Anggarannya buat benerin jalan-jalan rusak di daerah kampung-kampung Solo. Masih banyak yang jelek. Karangasem sini jalan banyak yang rusak. Layak diaspal ulang lagi,” komentar Hendra Wibowo.

Proyek tidak jelas. Jalan sudah baik selalu diubah dan tidak jadi-jadi,” lanjut Suryo Atmojo.

Mending dicor saja. Biar enak jalannya tidak gronjal2,” saran Mipho Syoxta.

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, salah satu pegiat seni yang baru saja menggelar pertunjukan di Benteng Vastenburg Solo, Monique Dian Ayu, mengatakan lambatnya pembangunan koridor Jl. Jensud tidak terlalu berpengaruh pada jumlah penonton.

Kendati demikian, Monique menegaskan pelaksana pembangunan tak boleh acuh pada permasalahan tersebut. Lambatnya pengerjaan jalan membuat para pekerja event harus bekerja ekstra. Terutama soal manajemen waktu karena mereka sering terjebak macet padahal harus wira-wiri mengurusi banyak hal.