Siswa Baru 9 SMPN Klaten Diberi Seragam Plus Perlengkapan Sekolah Gratis

Ilustrasi sekolah. (Solopos/Whisnu Paksa)
24 Juni 2019 05:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Pemkab Klaten menggulirkan program seragam, sepatu, dan tas sekolah gratis untuk siswa baru di sembilan SMP negeri tahun ajaran 2019/2020.

Iming-iming seragam dan peralatan sekolah itu untuk mendongkrak jumlah siswa di masing-masing sekolah. Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Klaten, Sri Nugroho, menjelaskan program tersebut sudah direncanakan dan anggarannya dialokasikan melalui APBD Klaten.

“Itu sudah diprogramkan dan masuk dalam APBD. Nilai anggaran tergantung jumlah siswa baru yang diterima di sembilan SMP tersebut,” kata Nugroho saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu (23/6/2019).

Program digulirkan di sembilan SMP negeri yakni SMPN 2 Prambanan, SMPN 3 Karanganom, SMPN 3 Manisrenggo, SMPN 3 Jatinom, SMPN 3 Tulung, SMPN 3 Cawas, SMPN 2 Bayat, SMPN 3 Gantiwarno, dan SMPN 2 Polanharjo.

Sekolah-sekolah itu berada di wilayah perbatasan dengan kabupaten serta provinsi lain dan perbatasan dengan kecamatan lainnya di Klaten. Kuota PPDB di sembilan sekolah itu kerap tak terpenuhi alias jumlah siswa baru minim.

Seperti di SMPN 2 Prambanan yang berada di wilayah perbatasan dengan Kecamatan Prambanan, Sleman, DIY. Pada PPDB 2018/2019, sekolah itu menerima 74 siswa kelas VII yang terbagi dalam tiga rombongan belajar (rombel) atau kelas.

Bantuan seragam dan perlengkapan sekolah tersebut digulirkan untuk menambah daya tarik bagi lulusan SD di sekitar SMP perbatasan tersebut agar mendaftar ke sekolah-sekolah setempat.

Salah satu kendala target kuota tak terpenuhi di sekolah perbatasan yakni kalah bersaing dengan sekolah lainnya yang berdekatan. “Mudah-mudahan dengan bantuan ini jumlah peserta didik mereka bisa meningkat,” jelas Nugroho.

Dia menuturkan masing-masing sekolah perbatasan itu sudah mematok target siswa baru pada PPDB 2019/2020. Target masing-masing sekolah beragam mulai dari empat rombel hingga enam rombel. Masing-masing rombel terdiri dari 32 siswa.

Kepala SMPN 2 Prambanan, Andreas Kristanto, membenarkan jumlah siswa yang mendaftar PPDB di sekolahnya selama ini kerap minim. Pada PPDB 2017/2018, jumlah siswa di SMPN 2 Prambanan mencapai 134 siswa.

Namun, pada penerapan zonasi SMP untuk kali pertama saat PPDB 2018/2019, jumlah siswa baru menurun yakni 74 siswa. “Calon siswa yang tidak lolos PPDB di sekolah lain masuk ke SMPN 2 Prambanan. Ibaratnya sekolah penampungan. Berapa pun nilai hasil ujian siswa diterima,” kata Andreas.

Andreas mengatakan penyebab jumlah siswa baru saat PPDB di SMP tersebut beragam. Salah satunya yakni SMPN 2 Prambanan diapit 10 SMP yang tersebar di wilayah Kecamatan Prambanan, Klaten, dan Kecamatan Prambanan, Sleman, DIY.

Faktor lain yakni lokasi SMPN 2 Prambanan yang lebih terpencil dibanding SMP lainnya yang berdekatan. SMPN 2 Prambanan berada di wilayah terpencil yakni kaki perbukitan wilayah Desa Pereng, Kecamatan Prambanan, dan jauh dari akses jalan raya.

Selain itu, kondisi infrastruktur SMP tersebut dinilai kalah dibanding sekolah lainnya yang berdekatan. “Permasalahannya sangat kompleks. SMPN 2 Prambanan terletak di perbatasan, letak geografis terpencil, sarana prasarana kurang memadai bahkan ada kamar mandi rusak berat, serta tidak memiliki lapangan olahraga atau upacara yang layak,” urai dia.

Andreas menuturkan berbagai upaya untuk mendongkrak jumlah siswa baru sudah dilakukan. Hal itu termasuk menggulirkan program seragam dan sepatu gratis pada beberapa kali PPDB.

Namun, jumlah siswa baru belum terdongkrak signifikan. Ia berharap dengan perbaikan sarana prasarana serta bergulirnya program seragam dan perlengkapan sekolah gratis, jumlah siswa baru di SMPN 2 Prambanan bisa terdongkrak.