Rugikan Rp5 Miliar, Inisiator Arisan Diduga Fiktif Solo Kabur ke Luar Kota

Ilustrasi penipuan (Solopos/Whisnu Paksa)
25 Juni 2019 18:35 WIB Ichsan Kholif Rahman Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Solo masih memburu TR, warga Sangkrah, Pasar Kliwon, yang diduga menipu 53 orang lewat arisan fiktif. TR diduga telah kabur ke luar Solo.

Kerugian para korban akibat perbuatan TR, berdasar informasi yang diperoleh Solopos.com hingga Selasa (25/6/2019) mencapai Rp5 miliar. Pada Selasa siang polisi juga mulai memeriksa saksi terkait kasus ini di Mapolresta Solo.

Kasatreskrim Polresta Solo, Kompol Fadli, saat dijumpai wartawan, Selasa, mengatakan telah menerima laporan terkait dugaan penipuan dan penggelapan bermotif arisan dan jual beli hasil arisan tersebut. Dalam pemeriksaan terhadap para korban itu, jumlah kerugian keseluruhan mencapai Rp5 miliar.

“Korban mencapai puluhan orang dan setiap orang [rugi] mencapai seratusan juta rupiah. Kasus dugaan penipuan dan penggelapan ini cukup besar kerugiannya,” ujarnya mewakili Kapolresta Solo, Kombes Pol. Ribut Hari Wibowo.

Fadli mengatakan segera mencari TR yang diduga sebagai pelaku. Menurut informasi, TR telah meninggalkan Kota Solo.

Sementara itu, salah satu korban, Ana Maria, 43, warga Kelurahan Nusukan, Banjarsari, mengatakan jumlah korban saat ini terus bertambah. Korban tidak hanya dari Kota Solo, melainkan juga beberapa wilayah di Soloraya. Bahkan, ada yang dari Semarang.

Ia bersama para korban sudah berusaha mencari TR di rumahnya dan dua rumah indekosnya. Namun, hingga saat ini tidak ada iktikad baik dari TR untuk memberi kejelasan terkait uang para korban yang merupakan rekan-rekan usahanya.

Akhirnya, ia beserta empat korban lainnya melaporkan kasus itu ke Mapolresta Solo. “Sepertinya masih ada korban-korban lain lagi, kalau dulu kerugian kami hitung sekitar Rp2 miliar, kemudian bertambah menjadi Rp3 miliar, saat ini sudah Rp5 miliar. Semoga kasus ini dapat segera terungkap,” ujar Ana Maria.

Ana mengatakan para korban tertarik dengan arisan sistem menurun yang ditawarkan TR. Dalam sistem menurun itu terdapat daftar sesuai jumlah peserta dan berurutan sesuai bulan dimulainya arisan.

“Kalau memilih bulan-bulan akhir perolehan arisan akan ada keuntungan. Hal itu membuat kami tertarik dan secara sadar ikut arisan. Tapi setelah kami mengecek, ternyata nama-nama peserta arisan yang memilih perolehan arisan awal bulan ternyata fiktif,” imbuh Ana.

Korban lainnya, Dian Maya, 23, warga Mojosongo, Jebres, mengatakan kerugian yang ia alami Rp30 juta. Semula, ia mengikuti kelompok arisan melalui grup Whatsapp senilai Rp10 juta yang berjalan lancar.

Lantas, ia ikut beberapa grup arisan lagi. Hingga akhirnya penyelenggara arisan yang ia kenal setahun lalu itu menghilang.