Pasutri Sragen Jadi Calon Haji Tertua di Jateng, Berapa Usianya?

Pasangan Slamet dan Mutingah berdiri di depan Pendapa Rumdin Bupati Sragen di sela-sela acara pamitan calon haji, Senin (24/6/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
25 Juni 2019 15:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Dua warga Sragen yang merupakan pasangan suami istri (pasutri) bakal menjadi calon haji (calhaj) tertua di Jawa Tengah pada musim haji tahun ini.

Keduanya yakni Slamet Rosidi Abdul Rohman yang berumur 93 tahun asal Dukuh Karangsono RT 005, Desa Saren, Kecamatan Kalijambe, Sragen, dan istrinya, Mutingah Muh. Djudi, 88, akan bersama-sama pergi ke Mekkah pada 7-8 Juli mendatang. 

“Dengan umur 93 tahun itu, Mbah Slamet itu jadi calon haji tertua di Jawa Tengah,” ujar ketua rombongan calon haji asal Kalijambe, Ramin, di sela-sela acara pamitan haji di Pendapa Rumah Dinas Bupati Sragen, Senin (24/6/2019).

Slamet dan istrinya masuk regu 3 dalam rombongan nomor 4 di kloter 8 Embarkasi Adi Soemarmo Solo. Dalam acara pamitan haji tersebut, Slamet duduk di deretan ketiga dari belakang di kursi depan Pendapa Rumdin Bupati. 

Slamet mengenakan pakaian seragam batik warna hijau muda dan bercelana panjang warna putih. Pecinya hitam dengan hiasan warna kuning yang melingkar di pecinya. 

“Saya punya keinginan naik haji baru dua tahun lalu. Saya tidak tahu, yang mengurusi semua anak saya. Ya senang. Bekalnya ya ada uang dan barang keperluan di sana. Insya-Allah kuat,” ujar kakek-kakek yang sehari-hari menggarap sawah 1/8 hektare tersebut saat ditanya Solopos.com.

Kendati sudah lanjut usia, Slamet masih bisa mendengarkan suara Solopos.com yang bersaing dengan pengeras suara. Mutingah duduk satu deret dengan Slamet tetapi di barisan calon haji perempuan. 

Tempat duduk Mutingah berjarak 5 meter dari tempat duduk suaminya. Slamet dan Mutingah memiliki sembilan anak dengan 30 cucu dan 10 buyut. Mutingah melahirkan anak pertama saat berusia 16 tahun dan sudah menikah dengan Slamet. 

Anak pertama mereka bernama Miratun yang sudah naik haji duluan. Miratun lah yang mendaftarkan Slamet dan Mutingah berangkat haji.

“Kami didaftarkan pada 2012 lalu. Saya sudah ikut manasik haji sampai lima kali tetapi tidak dipanggil-panggil. Sampai akhirnya hampir putus asa. Tiba-tiba pada Bulan Puasa kemarin, kami mendapat panggilan untuk bisa berangkat haji tahun ini. Saya senangnya bukan main tapi belum sempat ikut manasik,” ujar Mutingah.

Ia tetap percaya diri bersama suaminya untuk tetap berangkat haji. Untuk persiapan fisik, Mutingah berlatih berjalan keliling kampung sampai 5-6 kali setiap hari. “Mbah kakung juga latihan jalan juga tetapi dengan caranya sendiri,” ujarnya.