Tulang Hewan Purba Ditemukan Di Pinggir Bengawan Solo Sragen

Tulang hewan purba sepanjang 20 cm ditemukan tim ekskavasi fosil dari BPSMP Sangiran, Sragen, di Dukuh Butuh, Banaran, Sambungmacan, Sragen, Senin (24/6/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
25 Juni 2019 17:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Tim peneliti dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Sragen, menemukan tulang hewan purba saat melakukan ekskavasi di pinggir Bengawan Solo wilayah Dukuh Butuh, Desa Banaran, Sambungmacan, Sragen.

Ekskavasi itu sejatinya untuk meneliti lapisan tanah purba. Pantauan Solopos.com, Senin (24/6/2019), penggalian dilakukan oleh tim BPSMP yang dipimpin Pipit Meilinda dan beranggotakan tujuh orang. Empat orang di antaranya merupakan warga setempat yang diperbantukan menggali tanah.

Anggota staf BPSMP Sangiran, Ilham Abdullah, memandu Solopos.com menuju lokasi kegiatan BPSMP Sangiran yang sudah berlangsung sejak Rabu (19/6/2019) lalu itu.

Lokasi galian berukuran 2 meter x 3 meter di tanah tebing setinggai 2-3 meter dari dasar sungai. Lokasi itu digali membentuk tanah berundak. Galian pertama sedalam satu meter dan galian kedua sedalam 1,5 meter dari permukaan tebing sungai awal saat penggantian.

Penentuan lokasi ekskavasi itu didasarkan pada hasil survei oleh empat anggota staf BPSMP Sangiran yang dikoordinasi Ilham. “Kami melakukan survei di wilayah Sambungmacan sebenarnya sejak 2013. Pada 2018 lalu juga survei di beberapa lokasi di sepanjang aliran Bengawan Solo. Nah, pada 2019 ini kami menyurvei 14 lokasi yang berpotensi terdapat endapan tanah masa purba," jelas Ilham.

Dari sekian lokasi yang disurvei hanya satu lokasi yang diekskavasi setelah ditemukan pecahan fosil herwan purba, yakni di Butuh. Ilham menjelaskan ekskavasi itu sebenarnya hanya untuk mengetahui lapisan tanah dan usia lapisan tanah.

Ketika tim ekskavasi menemukan fosil itu, Ilham menganggapnya sebagai bonus. “Ya, selama hampir sepekan ini kami sudah menemukan 102 serpihan fosil, di antaranya fosil binatang famili kerbau, famili rusa, buaya, kura-kura, dan gajah. Baru hari ini [kemarin] menemukan fosil tulang hewan purba yang cukup besar dengan panjang sekitar 20 cm,” ujar Pipit.

Pipit dan teman-temannya bisa mengidentifikasi jenis fosil binatang tertentu berdasarkan fosil gigi karena bentuk gigi binatang berbeda-beda. Ketika menemukan serpihan tulang, Pipit cukup kesulitan mengidentifikasi jenis hewannya.

“Fosil gigi hanya sebagian kecil, yang paling banyak serpihan tulang. Nah, fosil-fosil ini dibersihkan dan bila perlu direkonstruksi ulang. Bila ada temuan yang unik bisa dianalisis untuk penelitian lebih lanjut,” terang Pipit.

Selain penggalian, tim ekskavasi juga menyaring tanah hasil galian. Penyaringan dengan ayakan tradisional itu juga untuk menemukan serpihan fosil juga.

Kasi Pengembangan BPSMP Sangiran, Sragen, Septina Wardani, menyampaikan pengembangan situs purba di Sragen pada 2019 ada tiga kegiatan, dua di antaranya di Sangiran dan satunya di Sambungmacan.

“Kegiatan seperti ini juga dilakukan di Blora, Bumi Ayu, Grobogan, dan Sulawesi. “Seluruh lokasi situs manusia purba itu berada di bawah BPSMP Sangiran, Sragen,” terangnya.