Anak Dianiaya Bapak Di Sukoharjo Terluka Parah Di Wajah, Butuh Operasi Plastik

Suasana rumah TS yang menganiaya kedua anaknya A dan J di Desa Jatisobo, Polokarto, Selasa (25/6/2019). (Solopos - Bony Eko Wicaksono)
26 Juni 2019 17:15 WIB Candra Mantovani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SOLO -- Salah satu anak yang menjadi korban penganiayaan ayah kandungnya di Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, mengalami luka parah di wajah. Beberapa tulangnya patah sehingga membutuhkan operasi bedah plastik.

A, 19, diduga dipukul oleh ayahnya, TS, 45, menggunakan cangkul. A ditemukan di rumah neneknya yang bersebelahan dengan rumahnya pada pagi saat kejadian, Selasa (25/6/2019), dalam kondisi berlumuran darah dan tak sadarkan diri.

A yang baru saja lulus SMA itu kemudian dibawa ke RSU Islam Kustati sebelum dirujuk ke RSUD dr. Moewardi, Jebres, Solo, untuk mendapatkan perawatan intensif, Rabu (26/6/2019).

Rencananya, A menjalani operasi bedah plastik untuk merekonstruksi tulang wajah akibat terdapat beberapa tulang yang patah. Kepala Sub Bagian Hukum dan Humas RSUD dr. Moewardi, Eko Haryati, mengonfirmasi masuknya pasien korban penganiayaan, A.

A dirujuk dari RSU Islam Kustati, Pasar Kliwon ke RSUD dr. Moewardi pukul 05.32 WIB. “Tindakan sudah dilakukan berupa pemeriksaan fisik dan penunjang untuk menunjang diagnosis. Kami juga melakukan foto toraks dan cek laboratorium,” bebernya ketika ditemui Solopos.com di ruangannya Rabu.

Menurut Eko, saat ini pasien sedang dirawat dan mendapatkan pengawasan intensif oleh tiga dokter spesialis. A dijadwalkan segera menjalani operasi bedah plastik untuk memperbaiki tulang yang patah akibat penganiayaan.

“Lukanya sebagian besar berada di wajah. Terdapat beberapa patah tulang di wajah. Ada di rahang dan bagian mata yang patah. Dokter yang menangani ada tiga. Dari dokter bedah plastik, dokter syaraf, dan dokter mata,” imbuh dia.

Selain penanganan operasi, RSUD dr. Moewardi juga akan memberikan pendampingan psikologis untuk mengatasi traumanya. “Kondisi pasien dalam keadaan sadar tapi ada trauma. Kami tentu akan menyediakan pendampingan psikologis,” kata dia.

Sebagaimana diinformasikan, A bersama adiknya, J, 12, menjadi korban penganiayaan oleh ayahnya, TS, pada Selasa pagi. A dipukul menggunakan cangkul sementara adiknya, J, nyaris dijerat lehernya menggunakan tali tambang. Aksi TS itu diketahui warga yang mendengar teriakan J. Sementara istri TS, saat peristiwa berlangsung, sudah berangkat ke pabrik tempatnya bekerja.

TS, setelah menganiaya kedua anaknya, kemudian mencoba bunuh diri dengan menusukkan pisau dapur ke perutnya. Aksi itu juga ketahuan oleh warga. TS dengan perut berdarah lalu juga dibawa ke RSU Islam Kustati menyusul anaknya, A. Belum diketahui apa motif TS menganiaya anaknya.