Tak Ada Riwayat Gangguan Jiwa, Motif Bapak Aniaya Anak di Sukoharjo Masih Misteri

Suasana rumah TS yang menganiaya kedua anaknya A dan J di Desa Jatisobo, Polokarto, Selasa (25/6/2019). (Solopos - Bony Eko Wicaksono)
26 Juni 2019 19:15 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Motif penganiayaan dua anak oleh ayahnya di Desa Jatisono, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, Selasa (25/6/2019), masih misterius.

Pelaku, TS, 45, belum bisa diwawancarai. Begitu pula dengan istrinya, WW, yang saat kejadian tidak berada di lokasi karena sudah berangkat kerja di pabrik.

Sedangkan ibunda WW, Nanik, yang tinggal hanya 500 meter dari rumah TS juga tidak mengetahui apa yang memicu menantunya itu nekat menganiaya dua putrinya, A, 19, dan J, 12.

Selama ini, Nanik tak mengetahui apakah hubungan anaknya dengan TS harmonis atau tidak. “Sudah berumah tangga jadi saya sebagai orang tua tak pernah cawe-cawe dengan keluarga anak saya. Namun, selama ini tak pernah ribut atau cekcok. Selama ini, [hubungan keluarga] baik-baik saja seperti keluarga lainnya. WW tak pernah sambat sama saya,” ujar dia saat ditemui di rumahnya, Rabu (26/6/2019).

Sehari-hari TS bekerja serabutan. Kadang ia membantu temannya yang memiliki usaha sablon kaus di Solo. Tidak ada kejanggalan atau keanehan pada perilaku TS selama beberapa hari terakhir.

TS membaur dengan warga setempat saat ada acara atau kegiatan kampung. Dia juga selalu menghadiri hajatan pernikahan atau melayat jika ada warga yang meninggal dunia.

Sejak kejadian penganiayaan itu, anak bungsu TS, J, diasuh Nanik di rumahnya. Sementara istri TS, WW, menunggu proses operasi A di rumah sakit. Kendati dekat, WW jarang pulang ke rumah ibunya sehingga Nanik tak mengetahui secara jelas penyebab TS menganiaya kedua anaknya.

“[A] Sudah dirujuk ke RSUD dr. Moewardi, Solo tadi malam. Tapi belum dioperasi karena masih menunggu kabar dari tim dokter di RSUD dr. Moewardi Solo,” kata Nanik.

Ketua RT 002/RW 002, Desa Jatisobo, Amin Sahudin, mengatakan TS dan A sempat menghadiri kegiatan halalbihalal masyarakat setempat pada pekan lalu. “TS tidak mengalami gangguan jiwa. Masih waras seperti warga lainnya. Dia hobi memancing ikan di sungai. Kadang ia memancing bersama teman-temannya pada Minggu,” papar Amin.

Menurut dia, pasangan TS dan WW bekerja dan mendapatkan penghasilan setiap bulan. Kendati buruh pabrik, mereka selalu mendapat gaji setiap bulan. Bahkan, mereka bisa membiayai A yang telah mendaftar kuliah di perguruan tinggi swasta (PTS) di Solo.

Amin dan warga setempat lainnya tak menyangka TS nekat menganiaya kedua putrinya yang salah satunya masih anak-anak. “Dari sisi ekonomi, sama seperti warga lainnya. Mereka sama sama bekerja dan mendapatkan penghasilan setiap bulan. Saya juga tak tahu mengapa TS bisa berbuat seperti itu,” papar dia.

Sebagaimana diinformasikan, TS menganiaya anak sulungnya, A, dengan memukul kepalanya menggunakan cangkul. Sementara anak bungsunya, J, nyaris dia jerat lehernya menggunakan tali.

Saat ini, A menjalani perawatan di RSUD dr. Moewardi akibat luka parah di wajah. Beberapa tulang wajahnya patah sehingga membutuhkan operasi plastik untuk memulihkannya.

Sementara TS yang menusuk perutnya sendiri menggunakan pisau dapur setelah menganiaya kedua anaknya masih tak sadarkan diri di RSU Islam Kustati.