2 Tahun Berlalu, Bagaimana Kabar Sulami Manusia Kayu Asal Sragen?

Sulami, 37, berbaring sambil membuat kerajinan tangan dari bahan mote di rumahnya di Dusun Selorejo Wetan, RT 031, Desa Mojokerto, Kedawung, Sragen, Selasa (25/6/2019). (Solopos - Moh. Khodiq Duhri)
26 Juni 2019 12:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Nama Sulami menjadi perbincangan khalayak ramai di Soloraya, bahkan sampai tingkat nasional pada akhir 2016 hingga awal 2017 lalu.

Perempuan asal Sragen berusia 37 tahun ini harus menjalani kehidupan sehari-harinya di tempat tidur karena penyakit bamboo spine atau punggung bambu yang membuatnya mendapat julukan manusia bambu.

Warga Dusun Selorejo Wetan, RT 31, Desa Mojokerto, Kedawung, Sragen, itu nyaris tak bisa bergerak. Badannya kaku dan lurus. Penyakit dengan istilah medis Ankylosing Spondylitis ini diderita Sulami karena faktor genetik.

Penyakit bamboo spine telah membuat tulang-tulang belakang Sulami menyatu. Penyakit itu juga sudah menjalar ke tulang tangan dan kaki. Hal itu membuat anggota tubuh Sulami menjadi kaku layaknya kayu.

Penyakit langka yang diderita Sulami itu menyulut empati banyak pihak termasuk Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang turut menjenguk Sulami saat menjalani terapi di RSUD dr. Moewardi Solo.

Sejak saat itu, bantuan kepada Sulami terus mengalir. Rumah Sulami yang awalnya hanya berdinding batako dan berlantai tanah kini sudah disulap menjadi rumah yang lebih layak huni.

Kebetulan saat itu Sulami mendapat bantuan dari program rehab rumah tidak layak huni dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen. Rumah Sulami kini juga lebih baik sejak ada bantuan rehab rumah dari salah satu TV swasta dan lembaga sosial.

Dua setengah tahun berlalu, namun kondisi Sulami relatif masih sama seperti dulu. Karena terlalu lama tak bisa digerakkan, Sulami merasakan rasa nyeri yang luar biasa di sekitar pergelangan kaki.

Akibat rasa nyeri itu, dalam kondisi tidak sadar, Sulami kerap menggosok-gosokkan ujung tongkatnya ke bagian pergelangan kakinya tersebut. Hal itu membuat luka di pergelangan kakinya makin melebar.

“Dengan kondisi seperti itu, Mbak Sulami sudah tidak bisa ke toilet untuk sekadar buang air kecil atau besar. Kalau kakinya kena air akan terasa perih. Solusinya ya dia harus pakai pampers setiap hari,” terang Susilowati, 24, adik kandung Sulami, saat ditemui wartawan di rumahnya, Selasa (25/6/2019).

Pampers khusus orang dewasa dan tisu basah saat ini menjadi barang yang paling dibutuhkan Sulami. Sekarang Sulami sudah tidak bisa bergantung kepada bantuan dari para dermawan.

Simpanan uang di nomor rekeningnya sudah lama ludes untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. “Sudah enam bulan terakhir, bantuan PKH [program keluarga harapan] senilai Rp500.000/bulan tidak lagi turun. Saya tidak tahu penyebabnya. Untuk bantuan beras dan setengah kilogram dari Dinas Sosial, alhamdulillah tetap jalan setiap bulan,” jelas Susilowati.

Segala kebutuhan Sulami saat ini banyak bergantung kepada Susilowati. Didik Gunawan, suami Susilowati, hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Untuk menambah penghasilan, Susilowati biasa bekerja dengan berjualan cabai dan terung.

Namun, datangnya musim kemarau membuat ia tak bisa lagi berjualan sayuran tersebut. Ada kalanya Susilowati tidak memegang uang sepeser pun sehingga dia tidak bisa membelikan pampers dan tisu basah untuk kakaknya.

“Sudah hampir setahun Mbak Sulami tidak memeriksakan diri ke dokter [di RSUD dr. Moewardi] karena memang tidak ada biaya,” keluh Susilowati.

Untuk mendapatkan penghasilan, Sulami masih bekerja membuat kerajinan tangan seperti gantungan kunci, dompet, dan tas bermote. Sebuah tas mote bisa dibikin dalam waktu tiga hari.

“Setelah setengah jadi, tas dari mote ini harus dilapisi kain. Itu dikerjakan orang lain. Setelah jadi, saya menjual tas itu seharga Rp125.000/buah. Gantungan kunci saya jual Rp7.000/buah dan dompet saya jual Rp30.000/buah. Biasanya pembeli datang kemari untuk mengambil barang,” jelas Sulami.