Krisis, PDAM Klaten Sebut Butuh Rp200 Miliar Alirkan Air Bersih ke Kemalang

ilustrasi air PDAM. (Solopos/Dok)
26 Juni 2019 15:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Mengatasi krisis air yang rutin terjadi tiap musim kemarau di lereng Gunung Merapi wilayah Kecamatan Kemalang, Klaten, secara permanen bukan perkara mudah.

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Merapi Klaten memperkirakan butuh biaya Rp200 miliar untuk mengalirkan air bersih ke seluruh wilayah Kecamatan Kemalang.

Tingginya biaya mengalirkan air ke kawasan lereng Gunung Merapi itu lantaran jauhnya jarak kecamatan tersebut dengan potensi sumber mata air. Direktur Teknis PDAM Tirta Merapi Klaten, Sigit Setyawan, mengatakan perkiraan biaya itu berdasarkan hasil penghitungan PDAM belum lama ini.

Penghitungan dilakukan dengan asumsi pengaliran air bersih ke Kemalang dilakukan dari sumber mata air di wilayah Desa Cokro, Tulung. Perkiraan dana ratusan miliar rupiah tersebut hanya untuk menyiapkan peralatan pada bagian induk.

Nilai tersebut belum termasuk untuk membangun jaringan pipa hingga ke rumah warga. “Kurang lebih kebutuhan biaya untuk mengalirkan ke Kemalang mencapai Rp200 miliar. Itu baru untuk kebutuhan pada induknya seperti pompa dan pipa induk. Tentunya agar bisa dimanfaatkan harus ada pipa jaringan ke rumah tangga,” kata Sigit saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (21/6/2019).

Sigit menjelaskan ada beragam penyebab sehingga ongkos untuk mengalirkan air bersih ke Kemalang jadi tinggi. Salah satunya lantaran tak ada sumber mata air potensial yang berdekatan dengan Kecamatan Kemalang hingga perlu pipa jaringan yang panjang untuk menjangkau kawasan tersebut dari sumber mata air.

Selain itu, kondisi geografis Kemalang berada pada elevasi lebih tinggi ketimbang daerah sumber mata air seperti di Kecamatan Tulung. “Kalau ada sumber mata air yang dekat seperti wilayah Kecamatan Jatinom, biaya bisa ditekan. Kalau semakin jauh, tentunya main pompa terus sehingga memang perlu banyak solusi,” jelas dia.

Terkait solusi mengatasi persoalan air bersih di wilayah lain, Sigit menjelaskan PDAM masih membangun sambungan air bersih dari Umbul Sigedang, Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, ke Juwiring dan Karangdowo.

Kedua kecamatan tersebut belum terjangkau sambungan pipa air bersih PDAM. Sebagian desa di Karangdowo selama ini mengalami persoalan air bersih lantaran kondisi air tanah berasa asin.

“Saat ini masih pemasangan pipa induk. Sesuai target, 2020 sudah bisa menjangkau Juwiring dan Karangdowo,” jelas dia.

Camat Kemalang, Kusdiyono, mengatakan Kecamatan Kemalang terdiri atas 13 desa. Namun, tak semua desa di kecamatan tersebut mengalami krisis air bersih. Ia mencontohkan seperti Desa Dompol dan Desa Keputran yang sudah tersambung aliran air bersih dari PDAM.

“Di Balerante sudah memanfaatkan sumber air yang dialirkan dari [mata air] Bebeng [Kecamatan Cangkringan, Sleman, DIY]. Untuk Kemalang yang krisis air bersih itu seperti di Tlogowatu. Di sana sumur saja tidak ada,” urai dia.

Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Sip Anwar, menjelaskan mencari solusi permanen mengatasi krisis air bersih masih terus dilakukan. Ia mengusulkan jika memungkinkan pembuatan jaringan pipa air bersih dari mata air Bebeng bisa diperluas.

“Mungkin alternatif yang paling mungkin memanfaatkan dari Bebeng,” jelas dia.