1.500 Ekor Ayam Dibagikan Gratis di Klaten, Langsung Disembelih dan Dimasak

Ratusan warga Klaten mengantre pembagian ayam gratis di Jl. Pemuda, Klaten Tengah, Rabu (26/6/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
26 Juni 2019 21:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Sebanyak 1.500 ekor ayam pedaging yang masih hidup dibagikan secara gratis kepada warga di depan salah satu supermarket Jl. Pemuda, Kelurahan Tonggalan, Klaten Tengah, Rabu (26/6/2019).

Pembagian ayam hidup gratis itu bagian dari aksi protes para peternak ayam yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Klaten lantaran harga ayam yang anjlok sehingga merugikan peternak.

Mereka protes karena pemerintah dianggap mampu melindungi peternak mandiri. Pantauan Solopos.com, ratusan warga mengantre pembagian ayam gratis itu.

Marsih, 48, berada di dalam barisan. Tersisa satu antrean hingga Marsih mendapatkan ayam. “Nyoh sak gajah kaya kowe,” kata salah satu pria menyerahkan kepada Marsih yang mendapatkan giliran mendapatkan ayam.

Seketika Marsih tertawa mendengar ucapan salah satu panitia pembagian ayam yang memberikan seekor ayam berbobot 3,5 kg. Seusai mencelupkan jarinya ke kotak tinta, pencari rongsok itu menemui temannya bernama Ina, 56, yang sudah memegang seekor ayam.

“Masak aku dipadake pitik [Masa saya disamakan dengan ayam]?” tutur Marsih sembari tertawa disahut tawa temannya.

Marsih dan Ina masing-masing mendapatkan seekor ayam setelah mengantre selama hampir satu jam. “Saya tahu ada pembagian ayam dari salah satu pegawai Pemkab. Kemudian saya datang ke sini sama Mbak Marsih berboncengan sepeda motor dan mendapatkan kupon,” kata Ina, warga Dukuh Bendogantungan, Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan saat ditemui Solopos.com.

Ina dan Marsih bersyukur bisa mendapatkan ayam gratis terlebih harga daging ayam bagi mereka masih mahal. Ina menuturkan dua hari lalu sempat membeli daging ayam di pasar tradisional seharga Rp30.000/kg.

Ina dan Marsih berencana langsung menyembelih dan memasak ayam gratis itu untuk keluarga mereka masing-masing. “Mau disembelih kemudian dimasak saja, dinikmati bareng anak dan cucu,” kata Ina yang bekerja sebagai pedagang ayam potong keliling.

Hal senada disampaikan penerima ayam gratis lainnya, Wibowo, 57. Warga Desa Tegalyoso, Kecamatan Klaten Selatan itu bergegas pulang untuk menyembelih ayam yang dia dapatkan.

“Dimasak dan dinikmati bareng keluarga saja. Wong dikasih orang kok dijual,” kata pengayuh becak itu.

Pembagian ayam gratis itu berlangsung tertib. Pembagian diatur panitia dari Pinsar Klaten dibantu Senkom serta polisi. Ayam diberikan secara gratis kepada warga yang sudah mendapatkan kupon.

Seusai menerima ayam, para penerima wajib mencelupkan jari mereka ke kotak tinta untuk mengantisipasi pembagian dobel. Jumlah total ayam yang dibagikan yakni 1.500 ekor jenis broiler atau ayam pedaging.

Pembagian berlangsung dalam dua tahap yakni 500 ekor pukul 15.00 WIB dilanjutkan 1.000 ekor sekitar pukul 16.30 WIB. Ketua Pinsar Klaten, Sunaryo, mengatakan awalnya ada 2.000 ayam yang dibagikan gratis di Klaten.

Namun, sekitar 500 ayam dibagikan ke warga di Boyolali. Ayam yang dibagikan rata-rata berumur hampir dua bulan dengan berat sekitar 3,5 kg/ekor.

“Sebenarnya kalau harga bagus, umur tiga pekan itu sudah bisa dipanen [dijual] peternak. Namun, karena berlebihnya stok ayam akhirnya banyak yang tidak laku. Ayam yang semestinya panen saat Lebaran pun sampai saat ini ada yang masih di kandang,” kata Sunaryo.

Sunaryo mengatakan pembagian ayam secara gratis dilakukan peternak sebagai bentuk protes lantaran anjloknya harga ayam pedaging selama berbulan-bulan hingga para peternak merugi.

“Selain itu, dengan dibagikannya ayam ini bisa menabung untuk pahala. Kami juga berharap dengan pembagian ayam ini harga ayam bisa lebih baik,” kata dia.

Sunaryo mengatakan seusai Lebaran, harga ayam di tingkat peternak Rp8.000/kg. Harga itu lebih rendah dibanding harga pokok produksi (HPP) ayam broiler sekitar Rp18.000/kg. “Sebelumnya itu harga di tingkat peternak berkisar Rp11.000/kg. Ini terjadi hampir delapan bulan,” urai dia.

Rendahnya harga ayam di tingkat peternak tersebut membuat para peternak merugi hingga ratusan juta rupiah. Ia memperkirakan seorang peternak merugi Rp20.000/ekor.

“Kondisi peternak saat ini bangkrut. Punya pinjaman tidak bisa mengembalikan kalau kondisinya seperti ini. Kami menuntut setidaknya regulasi diganti. Selama ini tidak ada pembatasan untuk perusahaan besar berapa banyak mereka bisa memelihara ayam. Semestinya, ada pembatasan. Ya sebaiknya ternak itu untuk peternak rakyat saja,” ungkapnya.

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten, Sri Muryani Dwiatmini, mengapresiasi aksi protes para peternak tersebut dilakukan dengan bagi-bagi ayam gratis.

“Mereka protes justru membagikan kepada yang patut diberi. Jadi ini protes yang sangat positif. Mereka mengharapkan pemerintah membuat kebijakan yang nantinya mereka tidak terlalu lama merugi. Aksi ini patut disyukuri. Inilah musibah yang membawa berkah,” urai dia.