Industri Karak di Gadingan Sukoharjo Meredup

Pengrajin karak di Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, tengah menjemur karak di pinggir jalanan kampung, Rabu (26/6 - 2019). (Solopos/Indah Septiyaning W.)
27 Juni 2019 11:00 WIB Indah Septiyaning Wardhani Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO-Deretan karak memenuhi halaman rumah-rumah penduduk kala memasuki wilayah Desa Gadingan, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Rabu (26/6/2019).

Karak ini diletakkan berjajar tak hanya di halaman rumah, namun juga memenuhi pinggir-pinggir jalanan kampung. Hampir setiap rumah pun terlihat aktivitas warga dari menanak nasi, mencetak adonan, hingga merapikan bentuk karak menjadi kotak persegi panjang.

Pada Rabu pagi, sinar matahari terasa menyengat dan menyinari karak-karak. Di dalam rumah, Maryanto, 55, dibantu sang adik, Palupi, 42, warga RT 003/RW 004 Gadingan sibuk mencetak karak sebelum dipotong untuk dijemur.

Industri kecil rumah tangga dalam pembuatan karak ini merupakan warisan turun temurun yang sudah digelutinya sejak 40 tahun silam. "Saya mulai membuat karak sejak zaman Simbah dulu. Sekarang sudah tiga generasi," katanya ketika berbincang dengan Solopos.

Maryanto sehari-hari membuat karak dibantu anggota keluarganya. Setiap hari Maryanto menghasilkan puluhan kg kerupuk karak. Hasil karak yang dibuat berupa karak mentah dipasok ke berbagai daerah di Soloraya hingga Semarang. Dia menjual karak dengan harga satuan yakni Rp150 per karak. Penjual-penjual karak yang mengambil di tempatnya bisa menjual karak itu dengan harga Rp200–Rp250 per karak.

Sama halnya bisnis industri kecil lain, produksi karak miliknya juga mengalami pasang surut. Kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, selain permintaan konsumen, cuaca juga ketersedian modal. "Kami butuh suntikan modal. Selama ini modalnya terbatas sehingga banyak permintaan yang tidak dipenuhi," katanya.

Selain permodalan, dia mengaku banyak generasi penerus yang tak mau meneruskan bisnis karak keluarganya. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik maupun di instansi pemerintahan. Alhasil bisnis karak semakin menurun lantaran minimnya regenerasi. Beberapa industri rumahan ini bahkan gulung tikar karena tak ada yang meneruskan bisnis tersebut.

Pengrajin karak lain, Dewi Setyowati, 32, mengaku industri karak masih eksis hingga saat ini meski mulai meredup. Daerah Gadingan memang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil karak, bahkan dari luar daerah banyak yang membeli di Gadingan.

“Hampir mayoritas penduduk di sini adalah pengrajin karak, sehingga Gadingan dikenal sebagai sentra jarak sejak puluhan tahun lalu,” katanya.
Industri karak ini menjadi keahlian turun temurun, sehingga tetap terjaga sampai di masa modern saat ini. Meski harus bersaing dengan kerupuk lain. Dia sendiri menggeluti bisnis karak sejak masih lajang.

“Rata-rata dalam sehari pendapatan dari hasil penjualan karak bisa Rp150.000 lebih,” katanya.

Industri karak di Gadingan ini telah menjadi salah satu potensi desa yang diperhitungkan. Warga mengandalkan pendapatannya dari hasil industri karak tersebut. Pemasarannya pun kini telah menembus lintas daerah. Sebagai salah satu potensi desa, tentunya akan lebih baik jika industri karak didukung dengan bantuan permodalan dari pemerintah.

"Beberapa industri karak di sini sudah tutup karena kurang modal. Selain masalah modal juga minimnya regenerasi pembuat karak menjadi salah satu faktor bisnis ini tak berkembang pesat," katanya.