Kocak! Terinspirasi Dildo, Pemuda Boyolali Ini Bikin Humor Pilih Cakades Nomor 11

Poster bergambar Nugroho sebagai calon kepala desa fiktif. (Istimewa - Nugroho)
27 Juni 2019 08:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Insya Allah, Muda, Pengangguran Sukses, Panggah Enerjik. Kalimat itu menyertai semboyan Dari, Oleh dan Untuk Rakyat yang tertulis pada poster calon kepala desa (cakades) Sidomumbul, Boyolali, Ogi Nugroho (Paijo).

Di bagian atas poster tertulis Calon Kepala Desa Sidomumbul 2019-Espayet. Poster dilengkapi foto seorang pria berpeci warna hitam, begitu pula dengan warna jasnya. Angka 11 dengan tanda coblos tak lupa dibubuhkan di sisi kanan foto.

Poster itu sebenarnya cukup meyakinkan untuk kampanye cakades menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Boyolali, Sabtu (29/6/2019)nanti. Namun, Ogi Nugroho alias Paijo sebenarnya adalah cakades fiktif.

Bahkan nama Desa Sidomumbul juga tidak ada di Boyolali. Poster cakades fiktif ini dibuat oleh Nugroho, 23, warga Nogosari, Boyolali, untuk meramaikan ajang pilkades serentak yang akan diikuti 228 desa di Kabupaten Susu.

Jenuh dengan iklim kontestasi pilkades di wilayahnya, Nugroho mengkreasikan foto dirinya bak cakades di desa yang hanya ada di angan-angannya. Dia menegaskan tidak ada maksud apa pun terkait pembuatan poster itu kecuali hanya untuk hiburan semata bagi kawan-kawan dan keluarganya.

“Cara bikinnya juga mudah, tinggal foto diedit pakai aplikasi ponsel, inspirasinya dari tokoh Nurhadi dan Aldo [Dildo] yang sempat viral saat pilpres lalu” kata Nugroho saat diwawancarai Solopos.com, Rabu (26/6/2019).

Dengan poster yang terkesan kocak, Nugroho berharap ada sisi hiburan yang bisa dia munculkan di tengah situasi pilkades yang mulai rawan di sejumlah desa. Apalagi di wilayah-wilayah yang terkenal dengan fanatisme pendukung salah satu cakades.

Bagi para pendukung, imbuh Nugroho, fanatisme seharusnya tidak melebihi persaudaraan dan kerukunan antartetangga. “Oleh sebab itu kami dinginkan dengan poster yang kocak,” imbuhnya.

Dalam poster yang dia sebarluaskan di jaringan Whatsapp tersebut Nugroho mengecap diri sebagai anak muda pengangguran namun pongah dan penuh energi. Ini juga sebagai gambaran citra manusia yang tidak sempurna.

Anak muda yang meski penuh energi perlu bimbingan dan masukan karena sifatnya yang masih pongah (bodoh) menghadapi situasi desa. Dibandingkan calon yang berusia lebih tua, anak muda juga minim pengalaman.

Namun hal itu tidak lantas menjadikan orang-orang muda yang mencoba maju dalam kontestasi pilkades dipandang sebelah mata. “Selama ini yang terjadi adalah menuakan yang lebih sepuh, tapi sebenarnya yang muda juga bisa berkompetisi, jadi jangan hanya memilih karena usia,” imbuh Nugroho.

Cakades fiktif ini ditanggapi sebagai hiburan oleh sejumlah warga. Rismawati, 25, yang mengetahui sebaran poster lewat aplikasi Whatsapp mengatakan bagi generasi seusianya jika tidak puas dengan calon yang ada akan memilih Nugroho sebagai calon nomor 11.

“Wah kayaknya yang itu paling meyakinkan,” kata dia.