Belajar dari Kiai Endo, Prajurit Mataram Kades Pertama Pulutan Boyolali

Kondisi makam yang dipercaya sebagai peninggalan Kiai Endo di desa Pokoh Krajan Desa Pulutan, Kecamatan Nogosari, Boyolali. Kiai Endo merupakan penyebar agama di desa setempat. (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
27 Juni 2019 07:30 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Demokrasi setingkat pemilihan kepala desa (Pilkades) sering berjalan tak dewasa. Warga dalam satu desa bisa pecah menjadi beberapa kubu hanya untuk mendukung salah satu pasangan.

Parahnya, setiap pihak bersifat skeptis terhadap pihak lain. Rasa saling percaya dalam sebuah lembaga masyarakat pun dipertanyakan.

Jika begitu, patutlah belajar dari kisah Kiai Endo, seorang kepala desa di Desa Pulutan, Kecamatan Nogosari era Kerajaan Mataram.

Peperangan di wilayah kekuasaan Mataram membuat Kiai Endo yang semula merupakan seorang prajurit pergi ke wilayah utara Jogja. Dia tiba di Mangunan, sebuah dusun di wilayah Nogosari, Boyolali.

Wilayah tersebut masih menjadi kekuasaan Mataram. Saat itu, Mangunan menjadi salah satu pusat perkampungan yang dipimpin oleh seorang lurah.

“Sampai saat ini belum jelas siapa nama lurah tersebut,” ujar Bayan Pulutan. Pariman, saat berbincang dengan Solopos.com, di Kecamatan Nogosari, Senin (24/6/2019) sore.

Berada dalam pelarian, Kiai Endo tak lagi berperilaku layaknya prajurit perang. Dia justru menjadi pelayan untuk lurah setempat. Dia adalah tangan kanan untuk penarikan pajak masyarakat, serta mengurusi sistem barter yang masih diterapkan pemerintah.

“Bentuk barternya kebanyakan adalah kebutuhan pokok seperti jagung dan kacang hijau,” ujar Pariman. Kiai Endo bahkan menjadi orang kepercayaan lurah tiap menghadap ke Raja Mataram.

Pariman mengatakan sejak Kiai Endo menjadi orang kepercayaan, dirinyalah lebih sering menghadap Raja Mataram. Hingga suatu ketika, saat sang raja memiliki hajat, Kiai Endo yang diundang.

Sementara undangan yang sama tidak pernah sampai ke tangan lurah. Akibatnya, lurah merasa bersedih lantaran sang raja lebih menghargai Kiai Endo ketimbang dirinya.

Hingga beberapa hari kemudian, lurah menyuruh Kiai Endo pergi menjauh dari Mangunan. Syaratnya, Kiai Endo harus pergi ke tempat di mana suara blarak (daun kelapa kering) yang jatuh tidak lagi terdengar.

Kepatuhan pada lurah membuat Kiai Endo awalnya pergi ke tempat yang dirasanya sudah sangat jauh dari Mangunan. Namun setelah duduk, tak berselang lama dia mendengar suara blarak jatuh meski tidak mengetahui dari mana asal suara itu.

Akhirnya Kiai Endo pun menangis. Dia merasa tidak bisa menemukan tempat yang dimaksud oleh atasannya itu. “Karena menangis atau dalam bahasa Jawa disebut klodro, maka tempat itu disebut Dukuh Klodran sekarang,” urai Pariman.

Kiai Endo kemudian pergi ke tempat yang lebih jauh lagi. Di tempat kedua, dia tak hanya mencari tempat tinggal. Namun juga menyebarkan agama Islam bagi masyarakat pribumi.

Kepulut

Dia bahkan membangun sebuah masjid yang sampai sekarang dipercaya sebagai salah satu masjid tertua di desa. Tak sampai di situ, kisah asmara Kiai Endo pun berlabuh. Dia menemukan tambatan hati hingga maut menjemput di wilayah yang sama.

Hari-hari Kiai Endo dihabiskan dengan menyebarkan agama Islam bersama sang istri. “Itu kalau istilah Jawa namanya kepulut [jatuh cinta] makanya tempat itu kini menjadi Pulutan,” imbuh Pariman.

Penduduk yang berkembang membuat Pulutan berkembang menjadi sebuah desa. Kiai Endo sebagai pemimpun pertama dipilih oleh rakyat karena sifatnya yang alim dan bijaksana. Selain penyebar Islam, Kiai Endo juga dipandang terpuji karena merakyat dan dekat dengan masyarakat.

Pariman mengatakan saat ini masjid di Dukuh Pokoh Krajan Desa Pulutan serta makam di dukuh itulah yang dipercaya warga sebagai peninggalan Kiai Endo.

Makam itu masih kerap didatangi para warga untuk berziarah dan berdoa memohon pemimpin layaknya Kiai Endo. Bahkan, menurut cerita masyarakat di Pulutan, setiap menjelang musim pemilihan kepala desa seperti sekarang ini, makam itu kerap dikunjungi.

Kurang Diketahui

Makam itu akan diziarahi baik pendukung calon kepala desa maupun masyarakat umum.

“Alasannya Pokoh Krajan jika ditafsirkan berarti tempat tinggalnya orang-orang kerajaan, Kiai Endo itu kan merupakan anak buah raja,” kata dia.

Meski nama Kiai Endo cukup populer di desa ini, namun cerita di baliknya tak lagi diketahui oleh kalangan muda. Uswatun, 24, misalnya, dia mengetahui adanya keberadaan makam Kiai Endo di Pokoh Krajan.

“Namun siapa dia malah enggak tahu,” katanya. Hal senada juga disampaikan warga lain, Rina, 30. Meski kerap melewati wilayah tersebut namun dirinya tidak mengetahui kiprah tokoh yang dikenal dengan Kiai Endo.