Yess, Padi Rajalele Varietas Baru asal Klaten Resmi Dilepas

Bupati Klaten, Sri Mulyani, mempresentasikan calon varietas rajalele baru, Kamis (27/6 - 2019).
28 Juni 2019 14:00 WIB Damar Sri Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Calon varietas rajalele baru hasil kerja sama riset Badan Tenaga Nuklir (Batan) dengan Pemerintah Kabupaten Klaten memasuki sidang pelepasan varietas tanaman pangan oleh Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Kamis (27/6/2019).

Dalam sidang yang digelar di Hotel Salak Heritage Bogor ini, tim sidang dari Pemkab Klaten dipimpin langsung oleh Bupati Klaten, Sri Mulyani, didampingi dari Staf Ahli Bupati, Bappeda, Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan, Bagian Humas, Dinas Kominfo, dan petani peneliti.

Sebagaimana diketahui, riset pemuliaan benih rajalele telah dilaksanakan sejak 2013. Varietas tanaman rajalele yang baru berhasil diperpendek masa tanamnya dari 160 hari menjadi 105 hari, sedangkan tingginya 155 cm bisa dipangkas menjadi 110 cm.

“Padi rajalele merupakan padi yang menjadi ikon dan telah melegenda di Klaten yang memiliki ciri khas pulen dan wangi. Adanya varietas baru ini diharapkan meningkatkan minat masyarakat untuk kembali bergairah menanam padi. Sebab, masa tanamnya lebih pendek setara dengan jenis padi di pasaran umum seperti IR 64, C4, dan lain-lain. Varietas rajalele baru juga tidak mudah roboh karena padinya lebih rendah serta lebih tahan terhadap serangan hama penyakit,” kata Sri Mulyani.

Ia menyampaikan varietas baru rajalele bisa meningkatkan kesejahteraan petani di Klaten karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi serta dapat mengembalikan lagi kejayaan padi legendaris rajalele.

Setelah varietas rajalele baru ini resmi dilepas, Pemkab Klaten berencana melaksanakan launching resmi, perbanyakan benih, penanaman serentak dan pembentukan kelembagaan untuk manajemen produksi, pengelolaan dan pemasaran dari hulu hingga hilir.
“Klaten merupakan salah satu lumbung pangan di Jawa Tengah. Pemkab Klaten akan membangun pasar beras untuk meningkatkan perekonomian di Kabupaten Klaten. Pemkab telah mempersiapkan strategi untuk membranding beras rajalele melalui promosi pemasaran, salah satunya memperkenalkan kepada tamu yang datang di Kabupaten Klaten. Ini akan menjadikan beras rajalele sebagai oleh-oleh dan menyarankan PNS untuk mengonsumsi beras rajalele,” tambahnya.

Kepala Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Batan, Totti Tjiptosumirat dalam pemaparan di sidang menyampaikan telah melaksanakan penelitian benih rajalele di Kabupaten Klaten dengan teknologi nuklir sejak 2013. Dari penelitian benih mengusulkan untuk melepas tiga galur yaitu mutan A.10 (Srinuk), A 82.1 (Srinar) dan A 106.1(Sriten).

“Hasil sidang pelepasan varietas tanaman pangan Kementerian Pertanian merekomendasi pelepasan dua dari tiga yang diusulkan yaitu calon varietas A.10 (Srinuk) dan A.82.1 (Srinar),” ujarnya.