Tim Gabungan Bongkar Bangunan PKL di Jl. Transito Solo

Tim gabungan membongkar lapak PKL di Jl. Transito, Purwosari, Laweyan, Solo, Senin (1/7/2019). (Solopos - Nicolous Irawan)
01 Juli 2019 21:15 WIB Candra Mantovani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sebanyak 98 personel gabungan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo bersama TNI, Polri, dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) membongkar bangunan pedagang kaki lima (PKL) di Jl. Transito, Laweyan, Solo, Senin (1/7/2019).

Bangunan yang dirobohkan rata-rata sudah ditinggalkan pemiliknya alias tidak dipakai untuk berjualan. Pantauan Solopos.com, petugas dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Solo, Dinas Perdagangan (Disdag) Solo, Satpol PP Solo, Linmas setempat, Polsek Laweyan, TNI, PT KAI, dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo mulai melakukan pembongkaran pada pukul 09.00 WIB.

Mereka memprioritaskan pembongkaran kios semipermanen. Pembongkaran dilakukan secara manual tanpa menggunakan alat berat.

Kasi Penataan Bidang PKL Disdag Solo, Handoko, mengatakan tim membongkar bangunan PKL Jl. Transito yang sudah siap bongkar. Kios yang masih digunakan untuk berdagang ataupun dihuni oleh pedagang belum dibongkar.

“Ini nanti kami membantu juga proses pemindahan para PKL yang sudah siap ke rusunawa. Selain itu kami juga membantu proses pemindahan PKL yang mau pindah ke selter. Kami hari ini tidak membongkar semuanya. Hanya yang sudah siap. Kalau yang belum ya tidak kami bongkar,” kata dia saat ditemui Solopos.com di sela-sela pembongkaran, Senin.

Terkait bantuan mengantar barang pindahan PKL, Handoko menjelaskan tim hanya membantu yang pindah masih dalam wilayah Solo. Pedagang yang pindah ke luar Solo diminta pindah secara mandiri.

“Jika hanya perbatasan Solo, kami menoleransi dan tetap membantu untuk memindahkan barang-barang milik pedagang terdampak,” imbuh Handoko.

Selain itu, Handoko juga menegaskan proses perobohan bangunan tidak bisa selesai dalam satu hari. Hal ini lantaran masih harus melihat kebutuhan alat berat untuk merobohkan bangunan permanen PKL.

“Kelanjutannya nanti kami lihat dua atau tiga hari lagi. Apakah perlu menggunakan alat berat atau tidak untuk membongkar yang permanen. Sekarang untuk yang semipermanen yang bisa dilakukan manual dulu. Tapi sudah 70 persen diratakan dan sebagian baru atapnya,” ujar dia.

Kepala Stasiun Purwosari, Wagimin, mengatakan menerjunkan beberapa personel untuk mengamankan proses pembongkaran. Hal ini lantaran lokasi pembongkaran berada di dekat rel kereta api.

“Kami dari PT KAI diminta membantu pengamanan proses pembongkaran karena memang berada di jalur kereta api. Tim yang membongkar kebanyakan tidak tahu kapan jadwal KA lewat. Maka dari itu, kami diminta untuk mengamankan,” ucapnya.