Desa Duwet Sukoharjo Siap Dipoles Jadi Kampung Nasi Liwet

Sejumlah pembuat nasi liwet tengah meracik bahan utama nasi liwet di kediamannya di Desa Duwet, Kecamatan Baki, Senin (24/6 - 2019). (Solopos/Bony Eko W.)
03 Juli 2019 08:00 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO-Nasi liwet yang sering dijumpai di setiap sudut Kota Solo merupakan kuliner legendaris turun-temurun. Biasanya para penjual nasi liwet menggelar lapak di emperan toko di pinggir jalan pada malam hari. Para pengunjung pun tak menghiraukan ramainya lalu lintas saat menikmati sepincuk nasi liwet dengan beralaskan tikar atau karpet.

Di Sukoharjo, para penjual nasi liwet banyak dijumpai di sekitar Pasar Kartasura dan kawasan Solo Baru. Belasan penjual nasi liwet menggelar lapak hingga malam hari. Mereka mayoritas berasal dari Desa Duwet, Kecamatan Baki, yang dikenal sebagai kampung nasi liwet.

Hampir sebagian besar warga setempat bermatapencaharian sebagai pembuat nasi liwet. Mereka memilih berjualan di Kota Bengawan lantaran telah memiliki pelanggan dan lokasi yang cukup strategis. “Para pembuat nasi liwet meracik bahan utama dan bumbu pada malam hari. Kemudian, mereka mulai berjualan di Solo saat subuh hari,” kata seorang seorang pembuat nasi liwet, Sukirman, saat berbincang dengan Solopos, Senin (24/6/2019).

Nasi, labu siam dan kelapa merupakan bahan utama memasak nasi liwet. Biasanya, satu porsi nasi liwet dibanderol Rp7.000-Rp10.000. Para pembeli nasi liwet berasal dari berbagai macam latar belakang mulai dari sopir, karyawan swasta hingga pengusaha. Mereka ingin menikmati sensasi serba gurih dan lezat dari kombinasi nasi dengan sambal goreng jipang atau labu siam.

Kampung nasi liwet bisa dikembangkan menjadi objek wisata yang dikelola secara profesional pada masa mendatang. Para pelanggan setia atau wisatawan bisa mengunjungi rumah pembuat nasi liwet untuk melihat langsung proses pembuatannya. “Bisa dikemas menjadi paket wisata edukasi atau pendidikan. Permasalahannya, proses pembuatannya nasi liwet dimulai pada petang hari-malam hari,” ujar dia.

Sebagian besar pelanggan nasi liwet merupakan para perantau atau kaum boro yang ingin bernostalgia dengan kuliner tradisional saat pulang kampung. Bisa jadi, kaum boro bakal mengajak anggota keluarganya untuk mengunjungi sentra pembuatan nasi liwet.

Selama ini, upaya pengembangan wisata edukasi atau eduwisata memang belum optimal. “Masyarakat tidak tahu asal usul nasi liwet dari Desa Duwet. Mereka tahunya nasi liwet berasal dari Kota Solo lantaran mayoritas warung nasi liwet berada di Solo.”

Sementara itu, Kepala Desa Duwet, Kecamatan Baki, Suparno, mengatakan pengembangan industri nasi liwet butuh konsistensi dari berbagai pihak termasuk pemerintah desa dan Pemkab Sukoharjo. Bantuan berupa modal dan strategi pemasaran yang jitu menjadi bagian dari solusi jangka panjang. Suparno bakal berkoordinasi dengan Pemkab untuk mencari solusi alternatif guna mengembangkan kampung nasi liwet.