Petugas BPBD Sragen Ingatkan Bantuan Air Bersih Hanya untuk Minum

Sri Mulyani, 22, menggendong kelenting berisi air bersih melewati jalan berbatu dari tandon bantuan air ke rumahnya yang berjarak 100 meter di Dukuh Gedad RT 021, Desa Baleharjo, Sukodono, Sragen, Selasa (2/7 - 2019). (Tri Rahayu)
03 Juli 2019 12:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen mengingatkan warga yang mendapat bantuan air bersih agar menggunakannya hanya untuk kebutuhan minum.

Mobil tangki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen yang dikendarai Joko Ari Atmojo menyusuri jalan antardukuh di Desa Baleharjo, Kecamatan Sukodono, Sragen, Selasa (2/7/2019) siang. Setiap warga yang berpapasan dengan truk itu terpaksa berhenti dan keluar jalur saking sempitnya jalan desa tersebut.

Kondisi jalannya pun naik-turun. Untuk menuju Dukuh Gedad RT 021 dari Balai Desa Baleharjo membutuhkan waktu satu jam. Lamanya waktu bukan karena jarak yang jauh, tetapi jalan yang rusak parah sehingga membuat laju kendaraan hanya 20 km per jam.

Setelah melewati jalan berkelok yang melintasi permukiman, ladang tebu, dan tegalan, akhirnya tim BPBD yang beranggotakan empat orang tiba di Dukuh Gedad. Mereka berangkat dari Sragen pada pukul 09.00 WIB dan tiba di Dukuh Gedad hampir azan Zuhur.

Demang, sapaan akrab Joko Ari Atmojo, menghentikan mobil tangki di depan tandon air setinggi dua meter dan berkapasitas 5.100 liter. Tandon air berwarna oranye itu merupakan bantuan karyawan-karyawan Pemerintah Kabupaten Sragen pada 2017 lalu.  Di tandon itulah 5.000 liter air bersih digelontorkan dengan selang berukuran satu dim dari tangki mobil BPBD. Demang beberapa kali menghidupkan mesin pompa air.

Setelah tarikan motor beberapa kali, mesin pompa air di belakang mobil berbunyi sehingga air mengalir ke tandon. Warga yang sudah antre dengan ember dan kelenting berbahan gerabah tanah liat tak sabar untuk membuka keran air di bawah tandon. Sri Mulyani, 22, yang antre kali pertama dengan kelentingnya langsung membuka air keran. Ia hanya butuh waktu 10 menit untuk mengisi kelenting berkapasitas sekitar 30 liter air tersebut.

Setelah penuh, Sri menggendong kelentingnya dengan kain selendang seperti stagen di bagian punggung. Ia berjalan dengan telanjang kaki menyusuri jalan berkerikil dan berbatu menuju rumahnya yang berjarak 100 meter dari lokasi tandon.

“Dukuh ini langganan krisis air bersih saat musim kemarau. Sudah tiga bulan terakhir tak turun hujan. Sumur-sumur warga mengering. Kami hanya mengandalkan sumur di tengah areal persawahan tadah hujan yang berjarak hampir 1 km dari permukiman. Saya butuh waktu 1 jam untuk bolak-balik mengambil air sumur. Setiap hari harus ambil tiga kali,” ujar Sri yang namanya sama dengan nama Menteri Keuangan itu saat berbincang dengan wartawan, Selasa siang.

Setelah memasukkan air ke bak penampungan di rumahnya, Sri mengisi lagi tandon di depan musala dukuh setempat. Mbah Jami, 61, tak ketinggalan. Ia juga membawa kelenting dari rumahnya yang cukup dekat, hanya 10 meter dari tempat tandon untuk mengisi bak air. Warga lainnya yang antre juga beberapa kali mengambil air dari tandon itu.

“Keberadaan tandon sangat membantu warga karena air tidak banyak terbuang. Dukuh ini di perbatasan dengan Grobogan. Jalan di ujung kampung yang berjarak 50 meter dari tandon air ini menjadi batas wilayah kabupaten. Termasuk sumur yang menjadi andalan 40 kepala keluarga di RT 021 juga berada di perbatasan kabupaten,” kata Ketua RT 021 Gedad, Purwoko.

Purwoko memprediksi bantuan 5.000 liter air bersih hanya cukup untuk kebutuhan warga hingga 1 pekan atau 10 hari ke depan. Selebihnya, Purwoko tetap mengandalkan bantuan BPBD. Dia berharap musim kemarau tahun ini tidak panjang sehingga warga tidak kesulitan mendapatkan air bersih.

“Ingat, air bantuan ini hanya untuk kebutuhan memasak dan minum. Tidak boleh untuk kebutuhan mandi dan kakus,” teriak Untung Darmadi, Kasi Rehabilitasi dan Rekontruksi BPBD Sragen, sebelum meninggalkan lokasi.