Tak Hanya Rumah, Warga Sragen Ini Juga Kehilangan Sumber Penghasilan Akibat Kebakaran

Sejumlah warga bekerja bakti memotong pohon waru yang hangus terbakar di depan rumah korban kebakaran, Daim Ngadiyanto, 40, di Dukuh Gilan RT 011, Desa Tanggan, Gesi, Sragen, Minggu (7/7/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
07 Juli 2019 15:20 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Daim Ngadiyanto, 40, kehilangan rumah dan seisinya akibat kebakaran pada Sabtu (6/7/2019) petang. Tak hanya itu, RT 011, Dukuh Gilan, Desa Tanggan, Gesi, Sragen, itu juga kehilangan sumber penghasilannya.

Toko kelontong, pertamini, belasan tabung gas, dan obat-obatan pertanian tak tersisa akibat kejadian pada pukul 18.15 WIB itu. Daim masih bersyukur istri dan ketiga anaknya selamat.

Daim memprediksi kerugian yang dideritanya akibat kebakaran itu mencapai lebih dari Rp200 juta. Minggu (7/7/2019) pagi itu Daim menyaksikan aktivitas warga bergotong-royong membersihkan sisa-sisa kebakaran rumah dan tempat usahanya.

Dia duduk di kursi panjang di teras rumah simbahnya yang terletak di samping rumahnya. Bapak tiga anaknya pucat dan terlihat begitu sedih.

Terkadang dia terdiam dengan pandangan kosong ke depan. Daim belum berpikir tentang usaha untuk menghidupi keluarganya setelah musibah tersebut. Dia memiliki keahlian sebagai makelar sepeda.

Daim dan istrinya, Deni Nursiawan, 32, memiliki tiga orang anak, yakni Davin, 12, Oyi, 5, dan Arka, 7 bulan.

Kebakaran yang menghanguskan rumah Daim itu menambah daftar kejadian kebakaran di Sragen. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen mencatat ada 14 kejadian kebakaran sepanjang Mei-Juli 2019.

Kebakaran sebelumnya menimpa rumah Yadi, 67, warga Dukuh Jetis RT 008, Jambangan, Mondokan, Sragen, Senin (1/7/2019) dinihari, dengan kerugian mencapai Rp200 juta.

“Saya menyaksikan sendiri kobaran api yang tidak bisa dipadamkan saat melalap habis seisi rumah [milik Daim]. Sebelum Magrib itu, saya memang keluar sebentar. Lalu saat Magrib, ya sekitar pukul 18.00 WIB saya pulang. Dari arah timur saya lihat ada kebakaran dengan nyala api besar. Begitu saya dekati ternyata yang terbakar rumah saya. Kebakaran itu cepat,” kisah Daim.

Daim tidak tahu persis penyebabnya tetapi titik api datang dari usaha pom mini atau pertamini yang dibuka sejak dua tahunan lalu. Warga mencoba memadamkan api dengan mengambil air dari saluran irigasi persawahan di seberang jalan depan rumahnya.

Namun air itu tak mampu memadamkan api yang membakar pertamini itu hingga akhirnya merembet mengenai toko dan rumah. Saat 3-4 unit mobil pemadam kebakaran dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sragen tiba, kondisi api mulai mengecil.

“Sore itu saya habis kulakan bensin [bahan bakar minyak]. Ada enam jeriken berisi BBM di depan toko yang belum dimasukkan. Kira-kira satu jeriken berkapasitas 30 liter. Masih ada satu jeriken berisi bensin di dalam toko. Kemudian ada 16 tabung gas elpiji melon di toko itu tetapi yang isi sekitar lima tabung. Kalau pertamininya hanya terbakar tetapi tabung gas yang masih terisi itu meledak,” ujarnya saat berbincang dengan Solopos.com di kediamannya, Minggu siang.

Daim menduga merembetnya api dari pertamini ke toko kelontong terjadi lewat BBM tersebut dan kemudian meledakkan tabung gas sehingga api membesar dan membakar habis isi rumah. Belasan tabung gas yang hangus berjajar di tepi jalan sebelah barat rumahnya.

Beberapa warga hanya bisa melihat aktivitas kerja bakti itu. Warga membersihkan noda hitam pada dinding dan sebagian kusen dan lantai. Kusen jendela dan pintu masih menempel di tembok tetapi sebagian sudah berupa arang.

Rumah itu tak bisa lagi ditinggali. Sejak Sabtu malam, keluarga Daim menginap di rumah simbah mereka di sebelah utara rumah Daim dengan jarak kurang dari 100 meter.

“Sampai sekarang bantuan yang datang baru dari BPBD [Badan Penanggulangan Bencana Daerah] berupa bantuan sembako, selimut, dan sebagainya. Belum ada bantuan lainnya,” ujarnya.