Pria Boyolali Ini Pakai 2 Lot Saham Bank Mandiri Jadi Mas Kawin

Dwian Wahyu Prabawa menyerahkan dua lot saham kepada perempuan pujaan hatinya Sherly Wijayanti Kumayas, setelah prosesi akad nikah di Masjid Agung Boyolali, kompleks kabupaten lama, Minggu (7/7/2019). (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
08 Juli 2019 05:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Sekilas tidak ada yang istimewa dari prosesi akad nikah Dwian Wahyu Prabawa, 26, warga Karangkepoh, Banaran, Boyolali dan Sherly Wijayanti Kumayas, warga Karangduwet, Winong, Boyolali.

Selepas mengucapkan akad nikah di hadapan penghulu di Masjid Agung Boyolali, depan Rumah Dinas Bupati Boyolali, Minggu (7/7/2019) pagi, Dwian menyerahkan sejumlah mas kawin kepada pujaan hati yang baru saja resmi menjadi istrinya.

Seperangkat alat salat dan perhiasan emas sudah menjadi barang lumrah. Tak mau kehilangan akal memberikan barang bernilai sekaligus unik, Dwian kemudian memutuskan untuk menambah mas kawin berupa saham.

Bukan saham sembarangan, yang dia berikan adalah saham yang masuk dalam deretan saham blue chip, yaitu Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Jika tiap lot berisi seratus lembar dengan harga BMRI Rp7.900/saham, maka Dwian memberikan mahar saham senilai Rp1.583.949. Dia membingkai bukti pembelian untuk diserahkan sesudah akad.

Dwian merupakan karyawan Bank Mandiri di Solo. Dia sengaja membeli  BMRI yang menandakan dirinya bekerja di perusahaan milik istrinya sendiri setelah istrinya menjadi investor di BMRI, meski persentasenya sangat kecil.

 “Sengaja juga beli dua lot untuk menyimbolkan bahwa pernikahan itu menjadi ikatan kasih sayang dua orang,” imbuh Dwian ketika berbincang dengan Solopos.com, setelah selesai akad.

Kedua pengantin merupakan warga asli Boyolali. Mereka saling mengenal dan dekat sejak beberapa tahun terakhir. Sebelumnya Dwian juga menempuh pendidikan perbankan di STIE Bank Jateng Semarang sejak 2011 hingga empat tahun sesudahnya.

Setelah lulus, Dwian diterima bekerja di Bank Mandiri. Dari ranah pekerjaan ini pulalah laki-laki berperawakan kurus tersebut bakal menggantungkan nafkah keluarga.

Studi di bidang perbankan ini pula yang membuat Dwian memikirkan investasi jangka panjang. “Dan saham bisa menjadi salah satu pilihan,” imbuh dia.

Ide ini tercetus lantaran di sebuah akun media sosial, Twitter, Dwian pernah melihat unggahan yang menyebutkan saham bisa digunakan sebagai mahar pernikahan.

Bak gayung bersambut, usulan Dwian untuk memberikan mahar unik ini disetujui oleh pihak keluarga mempelai perempuan. “Setelahnya kami konsultasi ke KUA dan tidak ada masalah,” kata dia.

Bonus

Rona bahagia tak kalah terpancar di wajah Sherly. “Rasanya luar biasa,” kata dia. Namun demikian yang terpenting baginya adalah bisa menikah dengan pujaan hati. Mahar unik adalah bonus.

Pernikahan Dwian dan Sherly dihadiri Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Jateng II, M.Wira Adibrata. Wira begitu antusias dengan pilihan pengantin yang menjadikan saham sebagai mahar.

Menurut dia, apa yang dilakukan Dwian menjadi tahapan baru agar investasi di bidang pasar modal bisa menjadi gaya hidup atau life style, khususnya di kalangan milenial. "Ini mindset yang sangat positif," kata Wira.

Dia begitu mengapresiasi ada anak muda di Boyolali yang memikirkan aset produktif untuk mahar, terlebih saat ini otoritas pasar modal sedang gencar-gencarnya menumbuhkan minat investasi.

Edukasi

BEI begitu masif mengedukasi investasi sektor ini ke semua elemen masyarakat.

Di Boyolali, edukasi untuk investasi pasar modal masih harus digenjot. Data BEI per Februari tahun ini, jumlah investor saham di Boyolali masih di bawah Solo, Sukoharjo, Wonogiri, dan Sragen.

Dari total 26.133 investor, investor saham asal Solo paling banyak dengan 8.272 investor, diikuti Sukoharjo 6.121 investor, Wonogiri sebanyak 1.666 investor, Sragen 1.490 investor, Boyolali 1.709 investor, Karanganyar 2.820 investor, dan Klaten sebanyak 4.055 investor