Meninggal Karena Kelelahan, Begini Keseharian Anggota DPRD Wonogiri M. Nusantoro

Kerabat dan tetangga melayat di rumah almarhum Milkyas Nusantoro, 47, di Eromoko Wetan RT 003/RW 003, Desa/Kecamatan Eromoko, Wonogiri, Senin (8/7/2019). (Solopos - Rudi Hartono)
08 Juli 2019 22:15 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Anggota DPRD Wonogiri, Milkyas Nusantoro, 47, yang akrab disapa Toro meninggal dunia pada Minggu (7/7/2019) siang diduga karena kelelahan.

Kerabat Toro, Sumarsi, 67, saat ditemui Solopos.com di rumah duka, Eromoko Wetan RT 003/RW 003, Desa/Kecamatan Eromoko, Wonogiri, Senin (8/7/2019), menceritakan sebelum meninggal dunia Toro mengeluh tak enak badan.

Minggu pagi itu Toro pergi ke ladang tembakau tak jauh dari rumahnya. Di sela-sela kesibukannya sebagai anggota DPRD Wonogiri, politikus Partai Demokrat itu mengisi waktunya dengan bertani tembakau.

Hari itu dia ingin sekali secepatnya mengecek ladang. Sudah tiga hari dia tidak ke ladang karena mengikuti kegiatan kedewanan di Bandung sejak Rabu (3/7/2019). Toro baru pulang ke rumah pada Sabtu (6/7/2019) pukul 22.00 WIB.

Biasanya, Toro pulang dari ladang tengah hari. Namun, Minggu itu Toro pulang pukul 10.00 WIB. Sesampainya di rumah, kepada istrinya dia mengeluhkan tak enak badan dan keluar keringat dingin. 

Kendati begitu dia nekat mandi dengan alasan supaya badannya segar. “Setelah mandi Toro duduk di kursi. Sesaat kemudian dia merasa dadanya panas dan badannya lemas. Lalu istrinya membawanya ke dokter umum. Setelah diperiksa Toro merasa sehat lalu minta pulang," kata Sumarsi. 

Saat berjalan keluar ruang penanganan dokter, Toro lemas lalu tersungkur tak sadarkan diri. Selanjutnya dia dibawa ke rumah sakit di Eromoko, kemudian dirujuk RSUD Wonogiri. Di sana dia dinyatakan sudah meninggal dunia.

Sumarsi melanjutkan Toro sebelumnya tak memiliki riwayat penyakit. Namun, keluarga tak memungkiri Toro merupakan perokok berat. 

Sumarsi menduga Toro meninggal dunia akibat kecapaian lantaran sebelumnya mengikuti kegiatan di luar daerah dalam waktu cukup lama. Di sisi lain, waktu istirahatnya di rumah hanya sebentar. 

Toro dimakamkan di tempat kelahirannya di Baturetno, Wonogiri, Senin pukul 13.00 WIB. Dia dibawa dari rumah duka di Eromoko pukul 11.00 WIB.

Tetangga Toro, Tri Mulyanto, 48, saat ditemui Solopos.com di Eromoko, Senin, mengaku kaget mendengar kabar temannya itu meninggal dunia. Dia seperti tak percaya karena sebelumnya Toro tidak sakit. 

Bagi Tri, Toro adalah tokoh masyarakat yang dekat dengan warga. Dia sangat terbuka dengan siapa saja yang ingin berkomunikasi. Bahkan, bapak dua anak tersebut sering berkumpul bersama warga di hik berbincang mengenai berbagai topik yang sedang hangat.

“Beliau itu petani tembakau yang ulet. Setiap kemarau seperti sekarang dia menanam tembakau. Lahannya kurang lebih 2 hektare [ha] di beberapa lokasi,” kata Tri.

Dia melanjutkan Toro selalu peduli terhadap sesama. Dia tak segan memberi pekerjaan kepada warga yang menganggur, terutama saat musim tanam tembakau. Setiap menanam tembakau, Toro mempekerjakan lebih kurang 10 orang. Mereka diberi upah secara layak.

“Warga Eromoko Wetan merasa sangat kehilangan,” ulas Tri.