Asa Pemdes Pokoh Kidul Jadikan Patung Bedol Desa Wonogiri Tempat Wisata

Warga mengunjungi kawasan Patung Bedol Desa atau plaza, Karangtalun, Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Minggu (30/6 - 2019). (Solopos/Rudi Hartono)
09 Juli 2019 11:30 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Pemerintah Desa (Pemdes) Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri ingin mengelola kawasan Patung Bedol Desa yang berdiri di lahan Perum Jasa Tirta (PJT).

Kawasan yang dikenal warga dengan sebutan plaza itu potensial dikembangkan menjadi tempat wisata, karena setiap hari banyak warga mengunjunginya.

Sekretaris Desa (Sekdes) Pokoh Kidul, Budi Prabowo, saat ditemui solopos.com di kantornya, belum lama ini, mengatakan kawasan Patung Bedol Desa seluas lebih kurang 1 hektare (ha) itu berada di Pokoh Kidul, tepatnya di Dusun Karangtalun. Namun, lahannya aset PJT.

Meski bukan tempat wisata, kawasan itu kini seperti objek wisata. Ratusan pengunjung berkunjung di lokasi tersebut setiap pekan. Pada akhir pekan pengunjung bisa mencapai lebih kurang 500 orang. Alhasil, banyak pedagang yang berjualan di lokasi.

Di kawasan monumen itu pengunjung dapat menikmati pemandangan Waduk Gajah Mungkur (WGM) dari sudut pandang lain. Pengunjung betah berlama-lama karena bisa berteduh di bawah pohon yang rindang. Sayangnya, hingga sekarang tidak ada pihak yang mengelolanya, sehingga potensi pendapatan lenyap begitu saja.

“Kami enggak bisa berbuat banyak, karena lahannya milik PJT. Sebenarnya sayang sekali kalau potensi ini tidak dimanfaatkan. Yang dikelola hanya parkirnya, itu pun yang mengelola karang taruna setempat,” kata Budi mewakili Pj. Kepala Desa (Kades), Heru Sunarko.

Kawasan Patung Bedol Desa didirikan seiring dibangunnya Waduk Gajah Mungkur (WGM) 1976-1981 sebagai peringatan peristiwa perpindahan 68.750 jiwa dari 12.525 keluarga dari kampung halaman mereka ke luar Jawa.

Puluhan ribu warga dari 51 desa di tujuh kecamatan itu harus bertransmigrasi karena tempat tinggal mereka dijadikan waduk. Patung berjumlah tiga buah yang menggambarkan sebuah keluarga. Patung terdiri atas patung seorang perempuan yang menggendong anaknya, seorang laki-laki, dan anak perempuan. Sekeliling patung terdapat bangunan seperti tribun. Area dalam cukup luas. Sementara, area luar banyak pepohonan.

Menurut Budi, jika bisa mengelolanya, Pemerintah Desa (Pemdes) akan menyerahkan pengelolaannya kepada Badan Usaha Milik (BUM) Desa Pokoh Kidul. Pada tahap awal Pemdes bisa saja mengelola parkir.

Seiring berjalannya waktu dapat mengelola retribusi kawasan pedagang kaki lima (PKL), membuat wahana-wahana, dan mengembangkannya agar bisa lebih maju. Budi menyebut pihaknya sudah pernah berkomunikasi dengan pihak PJT, tetapi sekadar informal. Hingga sekarang belum ada lampu hijau dari PJT.

“Kalau bisa bekerja sama dengan PJT kami akan senang. Sistemnya bagi hasil atau bagaimana. Kalau kami bisa mengelola tentu kami juga akan merawat. Sekarang ini kan seperti tidak terawat. Bahkan, ada bagian-bagian yang sudah hilang. Sampai sekarang belum ada pihak yang menjembatani agar kami bisa berkomunikasi dengan PJT secara resmi. Sudah 12 tahun kami punya cita-cita mengelola kawasan itu, tapi belum terealisasi,” imbuh Budi.

Terpisah, Kepala Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) III/PJT I, Viari Djajasinga, menyatakan dirinya membuka pintu selebar-lebarnya bagi Pemdes Pokoh Kidul atau Pemkab Wonogiri untuk membahas rencana kerja sama pengelolaan kawasan Patung Bedol Desa.

Menurut dia kerja sama pengelolaan kawasan tersebut memungkinkan dijalin selama kegiatan di dalamnya tidak menganggu fungsi utama waduk. Oleh karena itu, sebelum terjalin kerja sama perlu analisis lebih mendalam terlebih dahulu.

“Kami sangat terbuka kalau mau ada yang berkomunikasi,” ucap Viari.