Puluhan Calhaj Embarkasi Solo Harus Dibantu Kursi Roda

Calhaj kloter pertama asal Sukoharjo berswafoto menjelang keberangkatan di Bandara Adi Soemarmo, Ngemplak, Boyolali, Minggu (7/7 - 2019). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
10 Juli 2019 10:15 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Solo Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Calon jemaah haji (calhaj) asal Embarkasi Solo, Jawa Tengah, yang harus menggunakan kursi roda saat pelaksanaan ibadah di Tanah Suci pada musim haji 2019 cukup banyak.

Hingga Senin (8/7/2019) malam saat pemberangkatan kelompok terbang (kloter) 8 asal Kabupaten Sragen, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Solo mencatat sedikitnya ada 47 anggota jemaah haji harus dibantu kursi roda. Sebagian besar merupakan jemaah dengan kelompok usia di atas 50 tahun.

PPIH menyiapkan petugas khusus yang bertugas mendampingi para jemaah saat naik dan turun kendaraan, perjalanan ke kamar, hingga menaiki pesawat.

“Jumlahnya akan terus bertambah menyusul kedatangan jemaah kloter 9 dan 10 dari Kabupaten Klaten,” terang Kepala Bidang Penerimaan dan Pemberangkatan Jemaah PPIH Embarkasi Solo Afief Mundzir, Selasa (9/7/2019). Afief menyebutkan ada 12 jemaah yang harus menggunakan kursi roda di kloter sembilan, dan 6 jemaah di kloter sepuluh.

Jumlah pengguna kursi roda yang cukup banyak, lanjut Afief, diduga lantaran makin banyaknya jemaah dengan usia lanjut. Hal ini disebabkan oleh masa tunggu keberangkatan haji yang relatif lama.

Jemaah asal Sukoharjo dan Boyolali misalnya, rata-rata harus menunggu delapan tahun agar agar bisa masuk dalam daftar keberangkatan haji.

Dia menambahkan PPIH telah menyiapkan fasilitas kesehatan tambahan, di antaranya kursi roda, obat-obatan, dan memperluas ruangan. “Tahun ini panitia memang harus bekerja ekstra keras dalam pelayanan terhadap kebutuhan khusus,” katanya.

Sementara itu, Kasubbag Humas dan Protokol Embarkasi Donohudan, Agus Widakdo, menyebutkan untuk memonitor kesehatan jemaah, Kemenag telah menyiapkan aplikasi khusus rekam kesehatan (medical record) yang terintegrasi dengan catatan tim medis.

“Dengan demikian kesehatan jemaah bisa terpantau dengan lebih optimal,” kata Agus.