Video Penyiksaan Anjing Viral, Wali Kota Rudy Pastikan Lokasi Bukan di Solo

Tangkapan layar video penyiksaan anjing yang viral di medsos. (Istimewa)
10 Juli 2019 12:30 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Dunia maya geger dengan kemunculan video penyiksaan anjing yang disebut-sebut berlokasi di Kota Solo, Jawa Tengah. Video berdurasi 30 detik itu menunjukkan seorang pria mengambil seekor anjing dari kandang besi menggunakan besi pencapit.

Pria berpakaian abu-abu itu kemudian memukul moncong dan kepala anjing hingga tak bergerak lagi. Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo memastikan video itu bukan diambil di Solo, melainkan dari daerah lain.

“Bukan. Itu ternyata bukan di Solo. Sepertinya di Pasar Tomohon (Sulawesi Utara). Saya dikirimi video itu dari Bu Wenny (Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kota Solo). Nah, untuk Solo sendiri, persoalan warung daging anjing itu kami masih mencari solusi,” kata dia, kepada wartawan, Selasa (9/7/2019).

Rudy, sapaan akrabnya, menyebut belum mendapatkan laporan lebih lanjut terkait warung daging anjing. Sedianya, Dispertan KPP yang menyusun masukan itu sebagai dasar mengambil langkah lanjutan. Misalnya, cara dan proses yang tidak benar saat mengolah daging anjing dapat menjadi dasar.

“Solusinya masih dicari. Tapi enggak bisa langsung tutup grek. Saya rasa setelah kebijakan Karanganyar menutup warung daging anjing, jumlahnya sudah berkurang,” paparnya.

Rudy mengakui banyak masyarakat yang memelintir rencana penerbitan Peraturan Wali Kota (Perwali). Lembaran tersebut salah satunya meminta pedagang untuk mengecek kondisi anjing yang akan disembelih, apakah bebas rabies atau sebaliknya.

“Kalau berpenyakit ya tidak boleh disembelih,” ucap Wali Kota Rudy.

Ia menyebut penutupan tak bisa dilakukan tanpa regulasi. Terlebih, apabila pedagang itu diketahui tidak melanggar aturan apa pun.

“Kalau mau menutup ya harus pakai solusi. Ini soal pekerjaan orang, ngopeni anak bojo [memelihara anak dan istri]. Kalau ditutup apa dia bisa makan? Ya, harus ada pembinaan dan sebagainya. Mau melakukan apa saja harus ada solusinya. Beli tanah saja pakai kajian dan analisa, menutup warung juga harus ada solusi,” ungkap Rudy.

Sebelumnya, Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dispertan KPP Kota Solo, Evy Nurwulandari, mengatakan ada 22 warung yang menjual olahan daging anjing di Solo. Puluhan warung itu per harinya membutuhkan pasokan 84 ekor anjing. Jumlah tersebut berdasarkan pendataan yang dilakukan hingga April lalu.

“Solo saja 22 warung. Mayoritas menyembelih sendiri dan beberapa mengambil pasokan daging dari warung besar. Jadi, warung-warung kecil itu nempil (mengambil dalam jumlah kecil). Warung terbesar di daerah Nusukan sampai 30-35 ekor per hari. Terbesar kedua warung di daerah Gilingan sekitar 20an ekor,” kata dia, kepada wartawan, Jumat (28/6/2019).

Evy mengakui para pemilik warung tidak menggunakan tata cara penyembelihan hewan yang baik. Anjing dipukul moncongnya agar tidak menggonggong dan melawan, baru disembelih. Ada juga yang sudah mati baru disembelih.

“Mereka sebenarnya sadar kalau banyak penolakan (menjual daging anjing). Tapi, keuntungannya besar. Permintaan juga banyak. Saya rasa kalau diajak beralihusaha, cukup sulit. Kalau konsumen sudah tidak ada, lama kelamaan mereka pasti tutup karena tidak ada permintaan,” jelas Evy.